Selasa, 17 November 2015

Jangan Ngaku Sudah Berusaha Maksimal Sebelum Baca Ini

Jangan Ngaku Sudah Berusaha Maksimal Sebelum Baca Ini

usaha maksimal

“Saya Sudah Berusaha Maksimal, Mau Apa Lagi?

Sekarang, tinggal tawakal. Kita semua serahkan kepada Allah hasilnya. Manusia hanya bisa berusaha.”
Sebenarnya, kalimat ini tidak ada salah. Memang seharusnya kita berusaha maksimal kemudian hasilnya kita serahkan kepada Allah, karena Dialah Penentu segalanya. Ini namanya tawakal.
Yang ingin saya bahas disini adalah, seringkali kita merasa sudah maksimal. Pertanyaanya adalah, sudahkah kita berikhtiar secara maksimal? Atau kita menyerah, padahal belum tentu kita sudah benar-benar berusaha maksimal.

Cerita Yang Mengubah Pandangan Tentang Usaha Maksimal

Saya membaca sebuah cerita yang sangat bagus, bagaimana gambaran apa yang menggambarkan makna berusaha semaksimal kemampuan kita (menurut kesanggupan kita). Dalam bahasa Al Quran disebut dengan mastatho’tum.
Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 64:16)
Ini cerita tentang syekh Abdullah Al Azzam, suatu ketika syekh ditanya oleh muridnya. Ya syekh, apa yang dimaksud dengan mastatho’tum (semampumu).
Syekh pun membawa muridnya ke lapangan dan meminta mereka untuk berlari mengelilingi lapangan semampu mereka. Startnya sama tetapi finish dan jumlah putaran masing-masing berbeda. Ada yang 3 kali putaran sudah capek, ada yang lebih dari itu.
Setelah muridnya menepi semua, syekh itu pun berlari mengelilingi lapangan itu, para murid pun kaget dan tidak tega melihat gurunya yang sudah tua berlari. Sang syekh sudah terlihat pucat pasi dan lelah, tetapi tidak terlihat dari syekh itu untuk tidak melanjutkan larinya. Sampai syekh itu jatuh pingsan.
Para muridnya pun berlari untuk membangunkannya. Saat syekh itu siuman, beliau langsung mengatakan “inilah yang dinamakan semampu kita (mastatho’tum). Kita berusaha semaksimal sampai Allah sendiri yang menghentikan perjuangan kita”.
Orang pemalas dan gampang menyerah sering kali dengan cepat sudah mengatakan sudah maksimal. Dia mengatakan “sudah tidak bisa lagi” padahal sebenarnya “sudah tidak mau lain, males, capek”.
Saya kira sudah banyak sekali contoh, begitu mudah kita mengatakan tidak sanggup atau tidak bisa, kenyataanya kita masih bisa. Pertanyaan yang membedakan adalah: “tidak bisa atau tidak mau?”

Mencari Rezeki Halal Untuk Menafkahi Keluarga Adalah Bentuk Ketaqwaan

Taqwa itu implementasinya adalah mengikuti perintah Allah, salah satunya adalah mencari rezeki. Sudahkah kita mencari rezeki menurut kesanggupan kita (mastatho’tum) atau hanya sekedarnya semau kita?
Tentu saja, makna mastatho’tum harus diterapkan dalam ketaqwaan secara menyeluruh dalam ibadah, dakwah, dan jihad. Namun dalam pembahasan ini, saya akan membahas untuk urusan mencari rezeki dan urusan meraih sukses dalam bisnis dan karir.
Sudahkah kita menerapkan makna mastatho’tum dalam bisnis atau karir Anda? Sehingga memberikan hasil yang maksimal, memberikan nafkah yang memadai dan menjadikan keluarga kita kuat dalam bidang ekonomi untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Mastatho’tum Dalam Berdo’a

Tentu saja, penerapan mastatho’tum bukan hanya dalam ikhtiar saja. Tapi juga dalam berdo’a. Teringat kata ustadz beken, kalau mau rezekinya kenceng, usahanya harus kenceng, berdo’anya juga harus kenceng. Harus serius donk mintanya. Jangan asal.
Anda berharap mendapatkan rezeki yang banyak, sementara do’a setelah shalat hanya sekilas dan itu pun tidak mengerti artinya. Shalat dhuha jarang, apalagi tahajud. Aduh, tidak sesuai donk. Serius ingin banyak rezeki?
Jika seseorang hamba mendekat pada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta dan jika ia mendekat pada-Ku sehasta, maka Aku mendekat padanya satu depa. Jika hamba itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari.
(HR al-Bukhari)

Tapi Saya Bingung Mau Apa Lagi?

“Saya sudah kerja banting tulang dari pagi sampai malam, tapi tetap saja hasilnya sedikit. Mau apa lagi?”
Usaha maksimal itu bukan berarti hanya quantitasnya saja. Tapi juga kualitasnya. Anda bekerja siang malam, bisa jadi tidak akan memberikan hasil yang maksimal, karena kualitasnya juga tidak maksimal.
Ganti profesi?
Ya, kenapa tidak? Itu salah satu opsi. Mengapa tidak mencari profesi atau pekerjaan lebih baik dengan hasil yang lebih baik.
Jika Anda bisnis atau dagang, bisa ganti produk. Bisa juga dengan meningkatkan kualitas cara berjualannya. Tingkatkan kualitas dan kuantitasnya.
Bagaimana cara meningkatkan kualitas ikhtiar kita?
Kuncinya ada di ilmu dan keterampilan (skill Anda). Saya tidak bisa mengendarai sepeda motor motoGP sampai kecepatan 300 km/jam. Mengapa? Saya belum punya skillnya. Belum memiliki keterampilan sampai disana. Motor boleh sama, tapi keterampilan berbeda akan memberikan hasil yang berbeda. Kalau saya, mungkin akan terguling.
Tapi saya terlalu sibuk untuk belajar dan berlatih lagi.
Itu ibaratnya Anda bekerja keras menebang kayu dengan gergaji tumpul. Meski pun semakin keras Anda kerja tidak akan memberikan hasil yang lebih baik. Luangkan waktu sejenak, asah dulu gergaji, maka produktivitas akan naik lagi.
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa darjat.” (QS Al-Mujadilah: 11)
Mudah-mudahan, artikel ini akan menjadi cambuk, bagi penulisnya maupun siapa saja yang berkesempatan membacanya. Agar kita tidak lagi menjadi pemalas. Yuk, kita berusaha semampu kita, bukan semau kita.

8 Kata-kata Motivasi Buat Move On dari Mantan Pacar

8 Kata-kata Motivasi Buat Move On dari Mantan Pacar


Inilah kata-kata motivasi buat move on dari mantan pacar yang hebat:
Syukurilah Anda putus, artinya Anda sudah bebas dari perbuatan dosa karena pacaran. Pacaran itu banyak dosanya, mungkin Allah ingin menyelamatkanmu dari dosa.
Percayalah, jodoh itu ditangan Allah. Tidak harus punya pacar, banyak koq mendapatkan jodoh meski tanpa pacaran dulu.
Ini saatnya, Anda fokus belajar, menuntut ilmu, berkarya, dan beribadah. Ini saatnya, Anda mulai menjauhi dosa-dosa.
Putus? Alhamdulillah, Anda sudah menjauhi zina.
Yakinlah, Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik buatmu. Yakinkan kalau Allah itu sayang kepadamu? Allah lebih menyayangi dibanding mantanmu.
Daripada inget mantan terus, mending inget Allah terus. Dzikir itu berpahala dan membuat hati lebih tenang.
Sakit karena putus? Mungkin ini teguran dari Allah, agar menjalani hidup sesuai dengan ajaran Islam.
Mantan tidak setia? Syukuri ketauan sekarang, daripada nanti sudah menikah malah selingkuh

Bagaimana Membangun Motivasi Bagi Diri Sendiri dan Orang Lain

Bagaimana membangun motivasi bagi diri sendiri dan orang lain?

Pada dasarnya, membangun motivasi bagi diri sendiri maupun orang lain itu sama. Ada unsur yang harus kita perhatikan agar kita bisa membangun motivasi. Kedua unsur itu adalah pain dan pleasure, yaitu kesengseraan dan kesenangan.
Orang melakukan sesuatu untuk menghindari kesengsaraan seperti sakit, kemiskinan, penderitaan, kehilangan, penolakan, dan sebagainya. Begitu juga, orang mau bertindak karena dia mengejar kesenangan seperti cinta, kebahagiaan, kekayaan, keceriaan, dan sebagainya.
motivasi
Dia mau capek-capek naik gunung untuk merasakan kesenangan setelahnya.
Lalu, bagaimana agar dua hal itu bisa membangun motivasi bagi diri sendiri dan orang lain?

3 Langkah Membangun Motivasi

Ada 3 langkah yang perlu kita tempuh
  1. Penyadaran. Langkah pertama perlunya sebuah kesadaran, apa sich yang tidak diinginkan dan apa yang yang diinginkan? Jadi, langkah pertama berpusat pada keinginan. Untuk penyadaran, akan lebih mudah untuk menuliskannya. Coba tulis 100 keinginan Anda. Banyak orang yang tidak memiliki motivasi, karena keinginan diri sendiri saja tidak disadarinya.
  2. Penegasan. Setelah Anda mulai sadar apa saja yang Anda inginkan, saatnya melakukan pengasan. Caranya buatlah tujuan. Apa bedanya keinginan dan tujuan? Tujuan lebih jelas dan spesifik. Untuk membantu memudahkan tujuan, buatlah dengan metode SMART.
  3. Pemantapan. Setelah sadar, kemudian ditegaskan dengan goal setting yang SMART, selanjutnya lakukan pemantapan, agar benar-benar masuk ke dalam hati Anda. Baca secara berulang, tempel tulisannya di tempat yang mudah dilihat, dan sebagainya.
Untuk membangun motivasi bagi orang lain, Anda bisa melakukannya dengan komunikasi. Bimbinglah mereka untuk melakukan 3 langkah diatas. Dan, yang terpenting adalah menjadi contoh atau teladan bagi orang lain.

Membangun Motivasi Lebih Kuat Lagi

bagaimana membangun motivasi bagi diri sendiri dan orang lain
Jika sesuatu tidak menantang Anda, maka dia tidak akan mengubah Anda.
Kadang, pain dan pleasure kurang menggerakan. Banyak lho, orang yang sebenarnya punya keinginan dan selalu dia ingat, tetapi masih kurang motivasinya untuk bertindak. Maka, untuk membangun motivasi yang lebih kuat lagi dengan menjadikan tujuan Anda sebagai tantangan.
Mungkin, Anda ingin meraih penghasilan Rp 10.000.000 per bulan. Ini sudah cukup untuk makan dan membayar semua tagihan. Tapi, akan lebih dahsyat jika Anda membuat tantangan. Mengapa tidak membuat tujuan penghasilan Rp 100.000.000 per bulan.
“Ah, tujuan jangan muluk-muluk, kalau tidak tercapai sakit.”
Sakit tidaknya bukan karena gagal meraih tujuan, tetapi bagaimana Anda menyikapi kegagalan itu.
Lagi pula, saya lebih baik gagal meraih penghasilan Rp 100.000.000 dari pada berhasil meraih penghasilan Rp 10.000.000. Anggap saja, saya hanya berhasil meraih setengahnya. Berapa penghasilan saya?
Tantangan lebih memotivasi, lebih menggali potensi, dan menjadikan pikiran kita lebih kreatif untuk mencari ide-ide brilian. Kita pun akan sadar, jika tujuan kita menantang maka kita harus bertindak lebih masif, terstruktur, dan sistematis. Tidak bisa bertindak asal-asalan.
Tantangan akan mengubah Anda menjadi lebih semangat dan lebih kreatif.

Saat Motivasi Tiba-tiba Hilang

Pernahkah merasakan, semangat sudah menggebu-gebu, tetapi ternyata saat memulai bertindak, kita menjadi loyo kembali. Mengapa itu bisa terjadi?
Ada banyak penyebab. Salah satunya kebingungan. Saat mengetahui banyak yang harus dilakukan, dia bingung harus melakukan apa dulu. Atau tidak ada kejelasan, apa yang harus dilakukan sekarang.
Bagaimana cara mengatasinya?
Selain kebingungan, masih ada beberapa penyebab lain yang menjadikan kita kehilangan motivasi saat akan mulai bertindak. Saya membahas khusus masalah ini dan solusinya di video saya Instant Motivation Weapon.
Pada video tersebut saya bahas teknik-teknik instant yang akan menjadikan Anda termotivasi kembali saat ada sesuatu yang menghancurkan motivasi Anda. Video ini harus dimiliki oleh Anda yang memiliki tujuan besar dan menantang, jangan sampai hambatan kecil malah menghancurkan motivasi Anda.
Tidak sedikit, hanya karena masalah kecil akhirnya mengubur mimpi besarnya. Jangan sampai dech. Anda harus memiliki senjata untuk menghancurkan semua musuh yang bisa merusak motivasi Anda.

Jadilah Inspirasi Orang Lain

Anda tidak perlu menjadi orang yang sukses dulu untuk menginspirasi orang lain. Anda bisa menjadi teladan dari sisi semangat dan pantang menyerah Anda. Tunjukan kepada orang yang ingin Anda bangun motivasinya bahwa Anda memiliki determinasi yang tinggi dan pantang menyerah.
Buatlah orang lain berkata, “Saya tidak menyerah dan tetap semangat meraih tujuan karena terinspirasi olehmu.”
Tentu saja, tidak harus sampai berkata seperti itu, sebab tindakan mereka jauh lebih penting dibandingkan kata-kata. Jadikan mereka mengikuti semangat Anda. Jadikan Anda sebagai figur yang memiliki motivasi tinggi.
Jadi, pada dasarnya, agar bisa memotivasi orang lain, maka motivasi diri sendiri terlebih dahulu.

Makna Kembali Ke Fitrah Sesungguhnya

Pentingnya Memahami Makna Kembali Ke Fitrah

Kembali Ke FitrahSetiap menjelang Idul Fitri, kita begitu akrab dengan kata kembali ke fitrah. Sebuah kalimat yang begitu indah. Namun ini bukan sekedar kalimat penghias ucapan belaka, kembali ke fitrah adalah kunci sukses manusia di dunia dan akhirat. Dan, kita tidak akan memiliki kunci sukses ini jika kita tidak memahami makna yang sebenarnya.
Kita tidak akan pernah mendapatkan apa pun yang tidak kita ketahui. Anda tidak akan mendapatkan emas meski pun Anda berada di tambang emas jika Anda tidak mengetahui mana yang emas mana yang batu. Jadi ini alasan kita harus memahami makna kembali ke fitrah, agar kita bisa mendapatkannya. Artinya agar kita bisa kembali ke fitrah manusia.

Inilah Makna Kembali Ke Fitrah

Apakah Makna Kembali Ke Fitrah Itu Seperti Bayi Yang Baru Dilahirkan?

Ya, memang seperti itu. Namun sayangnya, banyak yang memahami bahwa yang dimaksud seperti bayi itu hanyalah bebas dari dosa. Ini benar, namun belum lengkap. Coba kita simak hadits ini:
“Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?”
Hadits diriwayatkan oleh Al-Imam Malik dalam Al-Muwaththa` (no. 507); Al-Imam Ahmad  dalam Musnad-nya (no. 8739); Al-Imam Al-Bukhari dalam Kitabul Jana`iz (no. 1358, 1359, 1385), Kitabut Tafsir (no. 4775), Kitabul Qadar (no. 6599); Al-Imam Muslim  dalam Kitabul Qadar (no. 2658).
Jika kita melihat hadits diatas, makna fitrah bukan hanya berkaitan dengan dosa, namun berkaitan dengan akidah. “menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi” artinya ini adalah perubahan akidah dari akidah asal (fitrah) dan apalagi jika bukan akidah Islam yang lurus. Setiap bayi itu dilahirkan dengan akidah yang lurus, namun diubah oleh orang tuanya menjadi Nasrani, Yahudi, dan Majusi. Anda kembali seperti bayi, artinya kembali memiliki akidah yang lurus.
Sementara saat kita mengatakan bebas dari dosa, karena memang bulan Ramdhan adalah bulan pengampunan yang akan membersihkan dosa bagi siapa yang yang berpuasa dan mendirikan shalat malam dengan keimanan.
Jadi fitrah itu adalah akidah yang lurus sebagaimana dijelaskan pada ayat berikut ini:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS.Ar Ruum:30)
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)“, (QS.Al A’raaf:172)
Sebelum lahir, kita sudah bertauhid (mengakui keesaan Allah), maka saat lahir, sebenarnya manusia itu memiliki akidah yang lurus. Inilah fitrah manusia. Namun akidah bisa berubah karena faktor orang tua atau lingkungannya. Jika kita mengatakan bahwa kembali ke fitrah memiliki makna kembali seperti bayi adalah benar, dengan pemahaman bahwa bayi yang baru dilahirkan memiliki akidah yang lurus. Bisa juga dikatakan, makna fitrah itu adalah hanif (lurus).

Mampu Menilai Mana Yang Baik dan Buruk

Jika kita melihat bahwa orang kafir sekali pun bisa melihat mana yang baik dan buruk, karena pada dasarnya itu adalah fitrah manusia. Hanya saja mereka sudah terkotori. Sisa-sisa dari fitrah itu masih ada namun sudah kotor dan rusak.
Orang yang kembali ke fitrah adalah mereka yang kembali bisa menilai baik dan buruk. Bukan berarti boleh berbuat dosa lagi, boleh ghibah lagi, boleh fitnah lagi, dan sebagainya. Jika demikian, justru kita harus mempertanyakan, sudahkah kita kembali ke fitrah?
Orang yang kembali ke fitrah akan berlaku lebih baik, karena dia mengetahui mana yang baik dan buruk dan dia akan cendrung memilih yang baik karena akidah yang lurus.

Fitrah Yang Tertutupi

Setiap manusia itu pada dasarnya fitrah, meski dia lahir dari keluarga yang tidak memiliki akidah yang lurus. Namun orang tuanya menjadikan anak itu berubah menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Artinya fitrah bisa tertutupi. Saat fitrah sudah tertutupi maka dia tidak bisa lagi membedakan mana yang haq dan yang bathil.
Oleh karena itu, ini menunjukan kita harus menjaga fitrah kita dan fitrah anak kita agar tidak tertutupi, sehingga lupa dari fitrahnya. Jangan biarkan pikiran dan hati kita terkotori oleh pemahaman-pemahaman yang tidak sesuai dengan akidah yang lurus. Bahkan saat kita lahir dalam keluarga Islam, bisa saja akidah kita terkotori oleh hal-hal dari lingkungan kita.

Cara Menjaga Fitrah

Bulan Ramadhan menjadikan kita kembali ke fitrah. Namun tidak berhenti sampai disitu, kita perlu menjaga kefitrahan ini. Kita harus tetap pada kefitrahan itu. Orang tua dan lingkungan bisa mengubah fitrah kita. Lalu bagai mana cara menjaga fitrah kita?
Fitrah kita berubah akibat dokrin dari orang tua dan informasi-informasi dari luar. Untuk itu kita perlu menjaga dengan memasukan informasi yang benar ke dalam pikiran dan hati kita untuk mengalahkan dokrin dan informasi yang merusak fitrah kita. Dan, sumber kebenaran itu tiada lain adalah Al Quran.
Al Qur’an adalah firman Allah, yang pastinya akan sesuai dengan fitrah kita. Siapa lagi yang lebih mengetahui kita kecuali Allah Yang Maha Mengetahui? Maka jagalah fitrah kita dengan mempelajari Al Qur’an dan mengamalkannya. Selama pikiran kita adalah pikiran sesuai dengan Al Quran, artinya fitrah kita masih terjaga.

Kesimpulan

Kembali ke fitrah itu adalah kita kembali ke akidah yang lurus. Dan setelah kita kembali ke fitrah, maka jagalah dengan membaca serta mengamalkan Al Quran.

Membumikan Shabar Untuk Meraih Sukses Dunia Akhirat


membumikan shabar

Melihat Makna Shabar Lebih Jauh

Banyak sekali hadits, ayat, dan atsar para sahabat tentang keutamaan shabar. Diantara banyak dalil yang menjelaskan tentang keutamaan shabar yang cukup mewakili adalah QS al Baqarah: 157, yang artinya:
“Merekalah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhan mereka. Dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.al Baqarah:157)
Yang dimaksud mereka dalam ayat ini adalah orang-orang yang shabar, sebab jika dilihat dari ayat 153, sedang membahas orang-orang yang shabar.
Anda juga bisa membahas artikel lainnya yang pernah dibahas di Motivasi Islami tentang shabar. Bahasan kali ini akan fokus mendalami bagaimana cara kita membumikan shabar dalam kehidupan sehari-hari.
Shabar adalah setengah dari iman. Ini menunjukan bagaimana dalamnya makna shabar. Shabar tidak hanya bisa artikan sebagai diam. Dalam konteks tertentu, artinya diam. Tapi lain lagi saat sedang berperang. Jika harusnya berperang, tetapi Anda diam, itu bukan shabar. Jika harusnya Anda berusaha, tetapi diam, Anda juga bukan orang yang shabar.
Shabar adalah keteguhan dalam kebenaran atau dengan bahasa lain menurut Imam Ghazali, shabar adalah upaya meninggalkan berbagai tindakan yang disukai nafsu syahwat. Yang dimaksud dengan “yang disukai nafsu syahwat” bukan hanya berkaitan dengan perut dan yang dibawahnya saja, tetapi makna hawa nafsu syahwat yang luas.

Shabar Sesuai Konteksnya

Sekarang, bagaimana membumikan shabar sesuai dengan konteks kehidupan kita?
OK, kita akan bahas beberapa kondisi yang berbeda dan aplikasi keshabaran berbeda. Perlu dingat, aplikasi berbeda, tetapi makna keshabaran tetap sama.
  • Shabar saat sedang ditimpa musibah adalah kita menerima dengan ikhlas apa yang terjadi sambil tetap berusaha keluar dari musibah. Sementara orang yang tidak shabar, yaitu orang yang mengikuti hawa nafsu menyikapi musibah dengan meraung-raung, manampar pipi sendiri, berkeluh kesah, dan sikap-sikap negatif lainnya.
  • Kata siapa kaya bukan ujian? Maka, apakah kita termasuk orang yang shabar atau tidak? Orang yang shabar berkaitan dengan kekayaan akan zuhud dan menahan diri. Sementara orang yang tidak shabar akan sombong.
  • Shabar dalam peperangan atau pertempuran adalah berani. Bukan diam, kabur, atau menjadi pengecut sebab itu adalah sikap orang-orang yang tidak shabar.
  • Shabar dalam menahan amarah disebut lemah lembut atau santun dan kebalikannya disebut menggerutu atau menyesali diri.
  • Shabar saat menghadapi kebosanan atau hal-hal yang tidak mengenakan diri adalah lapang dada dan kebalikannya adalah bosan. Hm … bosan ciri orang yang tidak shabar.
  • Shabar dalam menjalani hidup adalah zuhud sementara kebalikannya adalah tamak.
  • Shabar atas kadar bagian yang sedikit disebut qona’ah dan kebalikannya disebut serakah atau rakus.
Jadi, bagian-bagian kesabaran dilihat dari konteksnya. Tidak selamanya diam atau pasrah. Jika harus bertindak, maka tetaplah bertindak. Jika memang harus diam, maka diamlah.
Tinggal kita melihat keharusan itu, siapa yang mengharuskan? Jika yang mengharuskan itu Allah, maka ikutilah, itu yang disebut shabar. Jika yang mengharuskan itu keinginan hawa nafsu dan Anda mengikutinya, maka Anda tidak termasuk orang yang shabar.
Kunci untuk menjadi pribadi yang shabar adalah sebelum kita bersikap atau bertindak, apakah sesuai dengan tuntunan Allah? Atau hanya mengikuti hawa nafsu?

Mewaspadai Rekayasa Hawa Nafsu

Akal bisa menjadi budak hawa nafsu, saat akal mengikuti keinginan hawa nafsu. Saat akal sudah menjadi budak hawa nafsu, maka si akan akan menuruti dan mendukung apa pun yang dinginkan oleh hawa nafsu. Bisa jadi, akal akan membuat rekayasa-rekayasa sepela untuk memenuhi keinginan hawa nafsunya.
Rekayasa akal itu seperti dalih, alasan, atau bahkan mempelintir ayat agar sesuai dengan keinginan hawa nafsunya.
Sebagai contoh, malas adalah salah satu ciri orang yang tidak shabar. Seharusnya bertindak, tetapi dia tidak bertindak, dia hanya mengikuti keinginan hawa nafsunya untuk bersantai dan berleha-leha. Malas itu bisa jadi akibat perbuatan setan yang memanfaatkan hawa nafsu kita.
Kemudian, dengan rekayasa akal, dia mengatakan kalau dia itu menyukuri apa yang ada sehingga tidak perlu usaha lebih giat lagi. Padahal, kata syukur hanya pemanis bibir, hanya untuk menutupi kemalasannya. Lihat artikel ini tentang malas yang menyamar.
Waspadalah terhadap rekayasa dari diri sendiri hanya untuk mengikuti hawa nafsu.
Mudah-mudahan, dengan memahami makna shabar sesuai dengan konteksnya, akan lebih memudahkan kita untuk mengaplikasikan atau membumikan keshabaran dalam kehidupan kita sehari-hari. Shabar adalah modal kita untuk sukses dunia akhirat, sebab kita lebih kuat, lebih tahan banting, dan yang lebih penting mendapatkan pertolongan Allah.
Insya Allah, jika kita bisa menjadi orang yang shabar, dakwah akan lebih berjaya, kehidupan pribadi lebih syukses dan mendapatkan rahmat serta ampunan Allah. Aamiin.

4 Rahasia Mengubah Takdir Agar Hidup Lebih Baik

mengubah takdirBisakah mengubah takdir?

Banyak orang malas yang menjadikan takdir sebagai dalih atas kemalasannya. Padahal, takdir itu bisa diubah. Memang, tidak semua takdir bisa diubah. Misalnya, jika kita ditakdirkan sebagai seorang laki-laki, tidak bisa diubah menjadi seorang perempuan.
Kita memang tidak bisa mengubah takdir yang sudah terjadi sebab waktu memang diciptakan tidak bisa mundur. Yang dimaksud mengubah takdir disini ialah mengubah takdir dimasa mendatang.
Lalu bagaimana cara kita mengubah takdir? Cara yang benar dan tepat, tentu saja harus bersumber dari Pembuat takdir yang tiada lain Allah SWT melalui Al Quran dan Hadits Nabi saw.
Bagi Anda yang belum tahu, bahwa takdir bisa diubah, silahkan simak hadist berikut:
Hadits dari Imam Turmudzi dan Hakim, diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi SAW Bersabda : “Barangsiapa hatinya terbuka untuk berdo’a, maka pintu-pintu rahmat akan dibukakan untuknya. Tidak ada permohonan yang lebih disenangi oleh Allah daripada permohonan orang yang meminta keselamatan. Sesungguhnya do’a bermanfa’at bagi sesuatu yang sedang terjadi dan yang belum terjadi. Dan tidak ada yang bisa menolak taqdir kecuali do’a, maka berpeganglah wahai hamba Allah pada do’a”. (HR Turmudzi dan Hakim)
Jika Anda ditakdirkan lahir dari keluarga miskin, itu memang tidak bisa diubah. Masa lalu sampai saat ini miskin, itu pun tidak bisa diubah. Namun, Anda bisa menolak takdir menjadi orang miskin terus dengan do’a.

Cara Mengubah Takdir

Mengubah Takdir Dengan Berdo’a.

Allah yang menetapkan takdir kita, maka Allah memiliki kuasa untuk mengubahnya, artinya takdir baru bagi kita. Mengubah takdir artinya Allah menggantinya dengan takdir baru. Tetap, Allah yang menetapkan takdir. Cara pertama ialah dengan berdo’a seperti yang dijelaskan pada hadits diatas.
Silahkan berdo’a, saya juga terus berdo’a untuk hidup yang lebih baik di dunia dan mengharapkan kebaikan juga di akhirat. Berdo’a itu penting dan harus dilakukan serius, jangan asal. Luangkan waktu dan hati untuk benar-benar bedo’a, bukan hanya komat kamit sekilas tanpa menghadirkan hati bahkan tidak memahami apa yang dikatakan.
Do’a tanpa tindakan percuma? Tidak, kadang ada kondisi dimana kita tidak bisa bertindak lagi, maka bedo’alah. Kadang, kita bingung mau bertindak apa? Berdo’alah. Anda sudah berusaha dan sedang bertindak, maka berdo’alah. Mudah-mudahan Allah membimbing langkah kita. Termasuk membuka pikiran untuk melakukan sesuatu.
Cara Kedua adalah bersedekah. Rasulullah SAW pernah bersabda : “Silaturrahmi dapat memperpanjang umur dan sedekah dapat merubah taqdir yang mubram” (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Imam Ahmad)
Bisa jadi Anda akan celaka atau mengalami kerugian, namun bisa jadi tidak terjadi karena Anda melakukan sedekah. Oleh karena itu, mari kita tingkatkan sedekah, mudah-mudahan kita terhindar dari takdir-takdir yang tidak kita sukai dan diubah oleh Allah menjadi takdir yang menambah kebaikan bagi kita.
Cara Ketiga adalah bertasbih. Ada hadits yang diriwayatkan dari Sa’ad Ibnu Abi Waqosh, Rasulullah bersabda :
“Maukah kalian Aku beritahu sesuatu do’a, yang jika kalian memanfa’atkan itu ketika ditimpa kesedihan atau bencana, maka Allah akan menghilangkan kesedihan itu?  Para sahabat menjawab : “Ya, wahai Rasululullah, Rasul bersabda “Yaitu do’a “Dzun-Nun : “LA ILAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNI KUNTU MINADH-DHOLIMIN” (Tidak ada Tuhan selain Engkau, maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk diantara orang-orang yang dholim”). (H.R. Imam Ahmad, At-Turmudzi dan Al-Hakim).
Saya masih ingat, sekitar 20 tahun yang lalu, AA Gym mengajarkan tasbih ini. Semoga mengalir pahala kepada beliau karena telah mengajarkan amalan yang luar biasa ini. Yuk kita amalkan, sempat setelah melaksanakan shalat, selipkan disela-sela do’a kita. jadikan dzikir harian.
Cara keempat ialah dengan bershalawat ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ubay Ibnu Ka’ab, bahwa ada seorang laki-laki telah mendedikasikan semua pahala sholawatnya untuk Rasulullah SAW, maka Rasul berkata kepada orang tersebut : “Jika begitu lenyaplah kesedihanmu, dan dosamu akan diampuni” (H.R Imam Ahmad At-Tabroni)
Punya kesedihan, teruslah bershalawat. Rasulullah SAW pastilah menjadi orang yang mendapatkan keselamatan, namun balasan karena kita rajin bershalawat akan kembali kepada kita, diantaranya dilenyapkannya kesedihan kita.
Shalawat juga sebagai bukti cinta kita kepada Rasulullah SAW.
Jadi, jangan pernah berhenti berdo’a dan berusaha. Seburuk apa pun kondisi saat ini, semuanya masih bisa berubah. Bagaimana pun pahitnya pengalaman kita dimasa lalu, masih bisa berubah. Optimis selalu Anda bisa mengubah takdir Anda menjadi lebih baik.
Tidak ada lagi alasan, semua kelemahan, kesedihan, dan kemiskinan adalah sudah menjadi takdir. Mungkin, yang lalu biarlah berlalu, itu sudah takdir kita. Sekarang, kita masih memiliki harapan agar Allah mengubah takdir pahit menjadi takdir manis.
Harapan itu masih ada, berdo’alah dan teruslah berusaha.

Inilah Salah Satu Alasan Kenapa Sulit Mengatasi Masalah


sulit mengatasi masalah

Apakah Anda Sulit Mengatasi Masalah?

Banyak yang bertanya kepada saya, baik via BBM, facebook, atau email yang bertanya cara mengatasi masalah mereka. Saya berusaha membantu siapa saja yang bertanya dengan baik-baik. Dari menjawab berbagai pertanyaan, banyak sekali pelajaran yang bisa saya share kepada Anda melalui tulisan ini. Tapi, saya akan fokus ke satu hal yang sangat penting untuk difahami jika Anda ingin menyelesaikan masalah.
Sehebat apa pun solusi yang diberikan, jika Anda tidak memahami, menerima, dan menerapkan satu hal ini, maka solusi itu tidak akan ada artinya.
Sering kali, solusi itu sederhana dan umum sekali. Artinya mungkin Anda dan kebanyakan orang sudah mengetahui solusi itu. Sayangnya, solusi yang diketahui bisa percuma jika satu hal ini belum difahami.

Cara Mengatasi Masalah Apa Pun Dengan Segera

Ups … Jika Anda tidak membaca pendahuluan langsung ke bagian ini, artinya Anda termasuk orang yang memiliki satu hal ini.
Apa itu?
Ingin mendapatkan solusi secara instan. Jika perlu tidak usaha bekerja dan hasilnya langsung datang dalam 1 atau 2 hari.
Ya, memang. Ada beberapa masalah yang harus diselesaikan sekarang juga. Mungkin dan Anda bisa mencari solusi mepet. Tapi biasanya, solusi mepet akan meninggalkan masalah baru berikutnya. Bisa saja jika diperlukan, artinya mengalihkan masalah.
Tapi saat ini saya tidak sedang bicara masalah seperti ini. Fokus pada masalah yang tidak sangat mepet untuk diselesaikan. Artinya masih ada waktu untuk menyelesaikan, tapi sayangnya banyak orang yang tidak mau menjalani proses untuk mengatasi masalah itu.
Jika Anda termasuk orang yang selalu mencari solusi instan, mulailah mengubah pikiran Anda, bahwa mengatasi solusi itu membutuhkan proses dan waktu. Mungkin juga biaya. Jika terus-menerus ingin mendapatkan solusi instan, bisa saja Anda malah menghabis kan waktu untuk memikirkan dan mencarinya tanpa mengambil tindakan menjalankan solusi yang sebenarnya sudah ada.

Beberapa Studi Kasus Umum

Mau memulai bisnis, tapi tidak punya modal.

Ini pertanyaan termasuk yang paling sering saya terima. Sebenarnya solusinya sudah umum, banyak yang sudah mengetahuinya. Bisa nabung, bisa kerja sama, bisa minta, atau bisa meminjam. Masalahnya untuk bisa mendapatkan modal butuh proses dan banyak yang tidak mau menjalankan proses itu.
Untuk menabung pasti butuh waktu dan kerja kerasa menyisihkan sebagian penghasilan saat ini. Ah lama, tidak mau.
Kerja sama dikatakan ribet, sulit mencari partner yang dipercaya, dan sebagainya. Tentu butuh proses. Tapi, tidak mau juga menjalin relasi dan menjajaki kerja sama dengan orang.
Meminta? Kepada siapa? Kepada keluarga, orang tua, atau kakak misalnya. Bisa sich tapi kecil, keluarga saya bukan orang kaya. Padahal dia bisa mengembangkan uang yang kecil itu. Tapi, tidak mau juga, ingin langsung besar.
Meminjam? Ah sulit, apalagi ke bank! Tentu saja, orang akan mau meminjamkan jika mereka percaya kepada Anda. Artinya butuh waktu dan proses untuk membangun kepercayaan. Sekali lagi, tidak mau menjalankan proses itu.
Saya sudah menulis lebih lengkap bagaimana cara mendapatkan modal disini. Tapi ingat, Anda harus bersedia menempuh waktu dan proses untuk mendapatkan modal itu.
Sebenarnya bisa saja memulai bisnis dengan modal seadanya, tapi sekali lagi akan membutuhkan proses. Sejauh mana Anda mau menjalani proses itu, solusi selalu ada.

Masalah Perasaan

Masalah lain yang juga kadang sulit diatasi adalah masalah perasaan. Baik ditinggalkan pacar, tidak mendapatkan sesuatu sesuai keinginan, dikecewakan orang lain, dan sebagainya.
Padahal solusinya mudah dan sudah ada di Al Quran (semua solusi ada di Al Quran):
“…. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu Tidak mengetahui.” [QS. Al Baqarah 2: 216]
Apa reaksi mereka setelah saya ingatkan ayat ini?
“Iya sich, tapi sulit.”
“Saya tau, tapi saya masih belum bisa menerima.”
“Tapi tetap saja, saya masih sakit hati.”
dan sebagainya.
Kita semua sadar, bahwa untuk melupakan perasaan yang negatif akan membutuhkan waktu. Akan ada proses yang harus dilalui. Tidak langsung melupakan dan langsung nyaman.
Anda akan dituntut untuk menjalani tahap demi tahap untuk memperbaiki perasaan Anda. Tegarkan diri Anda, bersyabarlah, dan bersyukurlah. Memang sulit, memang butuh waktu, tapi harus Anda lakukan.
Kalau mau atau merasa sangat parah, mungkin membutuhkan jasa yang berkaitan dengan terapi. Tapi setau saya, tidak juga dipastikan memberikan hasil yang instan. Butuh waktu untuk membenahi perasaan. Jalani saja, lama kelamaan Anda akan lebih nyaman lagi.
Begitu juga saya, saya pernah merasakan perasaan kecewa, marah, bahkan mungkin dendam. Awalnya sulit, tapi lama-lama juga perasaan itu bisa mudar.

Kesimpulan

Untuk mengatasi masalah itu sering kali membutuhkan proses dan waktu. Tidak menjamin akan ada solusi dengan sekejap. Butuh waktu, bahkan bisa saja untuk menemukan solusi itu sendiri Anda membutuhkan waktu. Untuk solusi yang sudah diketahui dan umum pun, cara mengatasi masalahnya bisa lama. Apalagi jika Anda belum mengetahui solusinya, akan dibutuhkan waktu untuk menemukan solusi.
Keshabaran sangat dibutuhkan untuk menemukan solusi DAN mengaplikasikan solusi itu.
Jika Anda ingin lebih jauh mempelajari bagaimana teknik menemukan solusi, silahkan baca ebook yang sudah saya tulis: The Solution Secret.
Mudah-mudahan, Anda bisa mengatasi masalah sulit Anda

Copyright @ 2013 Cinta Islam.