Tampilkan postingan dengan label peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peristiwa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 November 2015

Kisah-kisah Wali Songo : SUNAN MURIA



SUNAN MURIA

SUNAN MURIA
1.       Asal Usul Sunan Muria

Beliau adalah putera Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Nama aslinya Raden Umar Said. Seperti ayahnya, dalam berdakwah beliau menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak sampai mengeruhkan airnya. Itulah cara yang ditempuh untuk menyiarkan agama Islam di sekitar Gunung Muria.


Tempat tinggal beliau di gunung Muria yang salah satu puncaknya bernama Colo. Letaknya disebelah utara kota Kudus. Sasaran dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Beliau lah satu-satu wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan Islam. Dan beliau pula yang menciptakan tembang Sinom dan Kinanti.

2.       Sakti Mandraguna

Bahwa Sunan Muria itu adalah wali yang sakti, kuat fisiknya dapat dibuktikan dengan letak padepokannya yang terletak di atas gunung. Menuju ke makam Sunan Muria pun perlu tenaga ekstra karena berada diatas bukit yang tinggi.

Bayangkanlah, jika sunan Muria dan isterinya atau dengan muridnya setiap hari harus naik turun guna menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat, atau berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang. Hal itu tidak dapat dilakukannya tanpa adanya fisik yang kuat. Soalnya menunggang kuda tidak mungkin dapat dilakukan untuk mencapai tempat tinggal Sunan Muria. Harus dengan jalan kaki. Itu berarti Sunan Muria memiliki kesaktian yang tinggi, demikian pula dengan murid-muridnya.

Bukti bahwa Sunan Muria  adalah guru yang sakti mandraguna dapat ditemukan dalam kisah perkawinan dengan Dewi Roroyono. Dewi Roroyono adalah puteri Sunan Ngerang, yaitu seorang ulama yang disegani masyarakat karena ketinggian ilmunya, tempat tinggalnya di Juana.

Demikian saktinya Sunan Ngerang ini sehingga Sunan Muria dan Sunan Kudus sampai-sampai berguru kepada beliau.

Pada suatu hari Sunan Ngerang mengadakan syukuran atas usia Dewi Roroyono yang genap 20 tahun. Murid-muridnya diundang semua. Seperti : Sunan Muria, Sunan Kudus, Adipati Pathak Warak, Kapa dan Adiknya Gentiri. Tetangga dekat jua diundang, demikian pula snak kadang yang dari jauh.

Setelah tamu berkumpul Dewi Roroyono dan adiknya Dewi Roro Pujiwati keluar menghidangkan makanan dan minuman. Keduanya adalah dara-dara yang cantik jelita. Terutama Dewi Roroyono yang telah berusia 20 tahun, bagaikan bunga yang sedang mekar-mekarnya.

Bagi Sunan Kudus dan Sunan Muria yang sudah berbekal ilmu agama dapat menahan pandangan matanya sehingga tidak terseret oleh godaan setan. Tapi seorang murid Sunan Ngerang yang lain yaitu Adipati Pathak Warak memandang Dewi Roroyono dengan mata tidak berkedip melihat kecantikan gadis itu.

Sewaktu menjadi cantrik atau murid Sunan Ngerang, yaitu ketika Pthak Warak belum menjadi seorang Adipati, Roroyono masih kecil, belum nampak benar kecantikannya yang mempesona, sekarang gadis itu benar-benar membuat Adipati Pathak Warak tergila-gila. Sepasang matanya hampir melotot memandangi gadis itu terus menerus.

Karena dibakar api asmara yang menggelora, Pathak Warak tidak tahan lagi. Dia menggoda Roroyono dengan ucapan-ucapan yang tidak pantas. Lebih-lebih setelah lelaki itu bertindak kurang ajar.

Tentu saja Roroyono merasa malu sekali, lebih-lebih ketiak lelaki itu berlaku kurang ajar dengan memegangi bagian-bagian tubuhnya yang tak pantas disentuh. Si gadis naik pitam, nampan berisi minuman yang dibawanya sengaja ditumpahkan ke pakaian sang adipati.

Pathak Warak menyumpah-nyumpah, hatinya marah sekali diperlakukan seperti itu. Apalagi dilihatnya para tamu undangan menertawakan kekonyolan itu, diapun semakin malu. Hampir saja Roroyono ditamparnya kalau tidak ingat bahwa gadis itu adalah puteri gurunya.

Roroyono masuk kedalam kamarnya, gadis itu menangis sejadi-jadinya karena dipermalukan oleh Pathak Warak.

Malam hari tamu-tamu dari dekat sudah pulang ketempatnya masing-masing. Tamu dari jauh terpaksa menginap di rumah Sunan Ngerang, termasuk Pathak Warak dan Sunan Muria. Namun hingga lewat tengah malam Pathak Warak belum dapat memejamkan matanya.

Pathak Warak kemudian bangkit dari tidurnya. Mengendap-ngendap ke kamar Roroyono. Gadis itu diserepnya sehingga tidak sadarkan diri, kemudian melalui genteng Pathak Warak masuk dan membawa lari gadis itu melalui jendela. Dewi Roroyono  dibaw alari ke Mandalika, wilayah Keling atau Kediri.

Setelah Sunan Ngerang mengetahui bahwa puterinya diculik oleh Pathak Warak, maka beliau berikrar siapa saja yang berhasil membawa puterinya kembali ke ngerang akan dijodohkan dengan puterinya itu dan bila perempuan akan dijadikan saudara Dewi Roroyono. Tak ada yang menyatakan kesanggupannya. Karena semua orang telah maklum akan kehebatan dan kekejaman Pathak Warak. Hanya Sunan Muria yang bersedia memnuhi harapan Sunan Ngerang.

Saya akan berusaha mengambil Diajeng Dewi Roroyono dari tangan Pathak Warak, kata Sunan Muria.

Tetapi ditengah perjalan Sunan Muria bertemu dengan Kapa dan Gentiri, adik seperguruan yang lebih dulu pulang sebelum acara syukuran berakhir. Kedua orang itu merasa heran melihat Sunan Muria berlari cepat menuju arah daerah Keling.

Mengapa kakang tampak tergesa-gesa? Tanya Kapa. Sunan Muria lalu menceritakan penculikan Dewi Roroyono yang dilakukan oleh Pathak Warak.

Kapa dan Gentiri sangat menghormati Sunan Muria sebagai saudara seperguruan yang lebih tua. Keduanya lantas menyatakan diri untuk membantu Sunan Muria merebut kembali Dewi Roroyono.

Kakang sebaiknya pulang ke Padepokan Gunung Muria. Murid-murid kakang sangat membutuhkan bimbingan. Biarlah kami berusaha merebut diajeng Dewi Roroyono kembali. Kalau berhasil kakang tetap berhak mengawininya, kami hanya sekedar membantu, kata kapa.

Aku masih sanggup untuk merebutnya sendiri, ujar Sunan Muria.

Itu benar, tapi membimbing orang memperdalam agama Islam lebih penting, percayalah pada kami. Kami pasti sanggup merebutnya kembali, kata kapa ngotot.

Sunan Muria akhirnya meluluskan permintaan adik seperguruannya itu. Rasanya tidak enak menolak seseorang yang hendak berbuat baik. Lagi pula ia harus menengok para santrinya di padepokan Gunung Muria.

Untuk merebut Dewi Roroyono dari tangan Pathak Warak, Kapa dan Gentiri ternyata minta bantuan seorang Wiku Lodhang Datuk di pulau Sprapat yang dikenal sebagai tokoh sakti yang jarang tandingannya. Usaha itu berhasil. Dewi Roroyono dikembalikan ke Ngerang.

Hari berikutnya Sunan Muria hendak ke Ngerang. Ingin mengetahui perkembangan usaha Kapa dan Gentiri. Ditengah jalan beliau bertemu dengan Adipati Pathak Warak.

Hai Pathak Warak berhenti kau, bentak Sunan Muria.

Pathak Warak yang sedang naik kuda terpaksa berhenti karena Sunan Muria menghadang didepannya.

Minggir!! Jangan menghalangi Jalanku, hardik Pathak Warak.

Boleh, asal kau kembalikan Dewi Roroyono !

Goblok!! Dewi Roroyono sudah dibawa Kapa dan Gentiri!! Kini aku hendak mengejar mereka!! Umpat Pathak Warak.

Untuk apa kau mengejar mereka?

Merebutnya kembali! Jawab Pathak Warak dengan sengit.

Kalau begitu langkahi dulu mayatku, Dewi Roroyono telah dijodohkan denganku, ujar Sunan Muria sambil pasang kuda-kuda.

Tanpa basa basi Pathak Warak melompat dari punggung kuda. Dia merangkak ke arah Sunan Muria dengan jurus-jurus cakar harimau. Tapi dia bukan tandingan putera Sunan Kalijaga yang memiliki segudang kesaktian.

Hanya dalam beberapa kali gebrakan, Pathak Warak telah jatuh atau roboh di tanah dalam keadaan fatal. Seluruh kesaktiannya lenyap dan ia menjadi lumpuh, tak mampu untuk bangkit berdiri apalagi berjalan.

Sunan Muria kemudian meneruskan perjalanan ke Juana. Kedatangannya disambut gembira oleh Sunan Ngerang. Karena Kapa dan entiri telah bercerita jujur bahwa mereka sendirilah yang memaksa mengambil alih tugas Sunan Muria mencari Dewi Roroyono, maka Sunan Ngerang pada akhirnya menjodohkan Dewi Roroyono dengan Sunan Muria. Upacara pernikahan pun segera dilaksanakan.

Kapa dan Gentiri yang berjasa besar itu diberi hadiah tanah di desa Buntar. Dengan hadiah itu keduanya sudah menjadi orang kaya yang hidupnya serba berkecukupan.

Sedang Sunan Muria memboyong isterinya ke Padepokan Gunung Muria. Mereka hidup Bahagia, karena merupakan pasangan yang ideal.

Tidak demikian halnya dengan Kapa dan Gentiri. Sewaktu membawa Dewi Roroyono dari keling ke Ngerang agaknya mereka terlanjur terpesona oleh kecantikan wanita jelita itu. Siang malam mereka tidak bisa tidur. Wajah wanita itu senantiasa terbayang. Namun karena wanita itu sudah diperisteri kakak seperguruannya mereka tak dapat berbuat apa-apa lagi. Hanya penyesalan yang menghujam didada. Mengapa mereka dulu terburu-buru menawarkan jasa baiknya. Betapa enaknya Sunan Muria, tanpa bersusah payah sekarang menikmati kebahagiaan bersama gadis yang mereka dambakan. Inilah hikmah ajaran agama agar lelaki diharuskan menahan pandangan matanya dan menjaga kehotmatan (kemaluan) mereka.

Andaikata Kapa dan Gentiri tidak memandang terus menerus kearah wajah dan tubuh Dewi Roroyono yang indah itu pasti mereka tidak akan terpesona dan tidak terjerat oleh iblis yang memasang perangkap pada pandangan mereka.

Kini Kapa dan Gentiri benar-benar telah dirasuki iblis. Mereka bertekad hendak merebut Dewi Roroyono dari tangan Sunan Muria. Mereka telah sepakat untuk menjadikan wanita itu sebagai isteri bersama secara bergiliran. Sungguh keji rencana mereka.

Gentiri berangkat lebih dahulu ke Gunung Muria. Namun ketika ia hendak melaksanakan niatnya dipergoki oleh murid Sunan Muria, terjadilah pertempuran dahsyat. Apalagi ketika Sunan Muria keluar menghadapi Gentiri, suasana menjadi semakin panas. Akhirnya gentiri tewas menemui ajalnya di puncak Gunung Muria.

Kematian Gentiri cepat tersebar ke berbagai daerah. Tapi tidak membuat surut niat Kapa. Kapa cukup cerdik. Dia datang ke gunung Muria secara diam-diam dimalam hari. Tak seorangpun yang mengetahuinya.
Kebetulan pada saat itu Sunan Muria dan beberapa murid pilihannya sedang bepergian ke Demak Bintoro. Kapa menyerep murid-murid Sunan Muria yang berilmu rendah, yang ditugaskan menjaga Dewi Roroyono. Kemudian yang dengan mudahnya Kapa menculik dan membawa wanita impiannya itu ke pulau sprapat.

Pada saat yang sama, sepulangnya dari Demak Bintoro. Sunan Muria bermaksud mengadakan kunjungan kepada Wiku Lodhang Datuk di pulau Sprapat. Ini biasanya dilakukannya bersahabat dengan pemeluk agama lain bukanlah suatu dosa. Terlebih sang Wiku itu pernah meneolongnya merebut Dewi Roroyono dari Pathak Warak.

Seperti ajaran Sunan Kalijaga yang mampu hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain dalam suatu negeri. Lalu ditunjukkan akhlak Islam yang mulia dan agung. Bukannya berdebat tentang perbedaan agama itu sendiri. Dengan menerapkan ajaran-ajaran akhlak yang mulia itu nyatanya banyak pemeluk agama lain yang pada akhirnya tertarik dan masuk Islam secara sukarela.

Ternyata, kedatangan Kapa ke pulau Sparapat itu tidak disambut baik oleh Wiku Lodhang Datuk.

Memalukan! Benar-benar nista perbuatanmu itu! Cepat kembalikan isteri kakang seperguruanmu sendiri itu! Hardik Wiku Lodhang Datuk dengan marah.

Bapa Guru ini bagaiman, bukakah aku ini muridmu? Mengapa tidak kau bela? Protes Kapa.

Sampai matipun aku takkan sudi membela kebejatan budi pekerti walau pelakunya itu muridku sendiri !

Perdebatan antara guru dengan murid itu berlangsung lama. Tanpa mereka sadari Sunan Muria sudah sampai ditempat itu. Betapa terkejutnya Sunan Muria melihat isterinya sedang tergolek ditanah dalam keadaan terikat kaki dan tangannya. Sementara Kapa dilihatnya sedang adu mulut dengan gurunya yaitu Wiku Lodhang Datuk.

Begitu mengetahui kedatangan Sunan Muria, Kapa Langsung melancarkan serangan dengan jurus-jurus maut. Wiku Lodhang Datuk menjauh, melangkah menuju Dewi Roroyono untuk membebaskan belenggu yang dilakukan Kapa.

Bersamaan dengan selesainya sang Wiku membuka tali yang mengikat tubuh Dewi Roroyono. Tiba-tiba terdengar jeritan keras dari mulut Kapa.

Ternyata serangan dengan pengerahan aji kesaktian yang dilakukan Kapa berbalik menghantam dirinya sendiri. Itulah ilmu yang dimiliki Sunan Muria. Mampu membalikkan serangan lawan.

Karena Kapa menggunakan aji pamungkas yaitu puncak kesaktian yang dimilikinya maka ilmu itu akhirnya merenggut nyawanya sendiri.

Maafkan saya tuan Wiku….,ujar Sunan Muria agak menyesal. Tidak mengapa. Menyesal aku turut memberikan ilmu kepadanya. Ternyata ilmu itu digunakan untuk jalan kejahatan, gumam Sang Wiku.

Bagaimanapun Kapa adalah muridnya, pantaslah kalau dia menguburkannya secara layak.

Pada akhirnya Dewi Roroyono dan Sunan Muria kembali ke Padepokan dan hidup bahagia


khulafaurrasyidin para pengganti nabi

 
Kepemimpinan Khulafaurrasyidin
A. Abu Bakar Ash-Sidiq ( 11-13 H/632-634 M )
a. Abu Bakar Ash-Sidiq diangkat menjadi Khulafaurrasyidin.
Tidak ada musibah yang paling besar bagi kaum muslimin kecuali setelah Rasulallah SAW wafat pada bulan Rabiul Awal tahun 11 M. Namun Abu Bakar Ash-Sidiq menyampaikan pidatonya yang terkenal : “ Wahai sekalian manusia, barang siapa yang menyembah Muhammad maka sesungguhnya ia telah wafat. Tetapi, barang siapa yang menyembah Allah SWT sesungguhnya Dia Maha Hidup dan tidak akan mati”. Segera mereka mendapat hidayah kembali, dan mereka dapat melihat siapa yang layak menggantikan Rasulullah SAW.
Setelah melakukan musyawarah akhirnya Abu Bakar Ash-Sidiq yang layak menggantikan Rasulullah SAW menjadi pemimpin umat islam. Baiat secara umum dilaksanakan di masjid Nabi yang dipimpin oleh Umar Bin Khatab.
b. Prestasi-prestasi Khalifah Abu Bakar Ash-Sidiq,
1. Menyebarkan agama islam ke Syam.
2. Memerangi kaum murtad.
3. Menaklukkan Persia.
4. Kodifikasi ( pengumpulan dan penulisan ) Al Qur’an
B. Khalifah Umar Bin Khatab ( 13 – 23 H/ 634 – 644 )
a. Umar Bin Khatab menjadi Khalifah.
Pengangkatan Umar Bin Khatab menjadi Khalifah atas usulan dari Abu Bakar Ash-Sidiq sendiri menjelang beliau wafat karena kedudukannya ditengah masyarakat. Kaum muslimin menyetujui hal itu, dan mereka memandang waktu itu adalah Umar Bin Khatab yang layak untuk menjadi Pengganti Abu Bakar Ash-Sidiq.
Setelah Abu Bakar wafat pada bulan Jumadilakhir tahun 13 H, kaum muslimin serentak membaiat Umar menjadi Khalifah. Maka semenjak itulah resmilah beliau menjadi Khalifah kedua.
b. Prestasi-prestasi Khalifah Umar Bin Khatab.
1. Membentuk pemerintahan yang adil, berwibawa dan disegani.
2. Memperluas kekuasaan Islam di asia dan afrika serta runtuhnya imperium Persia dan romawi.
3. Membangun kota Basrah ( 16 H/ 636 M ).
4. Membangun kota fusthat sebagai ibu kota mesir ( 21 H/642 M ).
5. Membangun masjid Amr Bin Ash.
6. Menetapkan kalender Islam.
Dan Khalifah Umar Bin Khatab pada ( 24 H/643 M ) karena dibunuh oleh Abu Lu’lu dari Persia yang menolak membayar pajak, padahal dia adalah orang kaya Raya.
C. Khalifah Usman bin Affan ( 23 -35 H/ 644 – 656 M )
a. Usman bin Affan menjadi Khalifah.
Sebelum Khalifah Umar ra wafat mmerintahkan dibentuk majelis syura ( Dewan permusyawaratan ) yang beranggotakan 6 orang. Mereka adalah Ali bin Abi Tholib, Usman bin Affan, Sa’ad bin Abi Waqqas, Abdurrahman bin Auf, Zubair Bin Awwam, dan Talhah bin Ubaidillah. Tugas tim ini adalah menetukan orang yang layak menjabat Khalifah jika dirinya sudah tiada.
Setelah Khalifah Umar ra wafat, terjadilah perdebatan yang cukup a lot dan akhirnya penentuan khalifah dilakukan melalui fotting. Suara kaum muslimin terbagi menjadi 2 untuk Ali bin Abi Thalib dan Usman Bin Affan. Namun Ali bin Abi Thalib , Sa’ad dan Zubair memilih Usman bin Affan sebagai kholifah ke-3 pengganti Umar bin Khatab. Maka dibaiatlah Usman bin Affan sebagai Khalifah ke-3. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 24 H/644 M.
b. Prestasi-prestasi Usman bin Affan.
1. Menuntaskan penaklukan di syam.
2. Membangun armada laut.
3. Mempertahankan dan memperluas daerah penaklukan islam.
4. Menyempurnakan kodifikasi Al Qur’an dan menyatukan perbedaan dalam pelafalan bacaan Al Qur’an.
Khalifah Ustman bin Affan wafat pada 35 H/ 655 M. di usianya 82 karena terbunuh dalam keadaan baca Al Qur’an. Dan kejadian pembunuhan pada Khalifah Ustman bin Affan mengawali fitnah kubra atau bencan besar bagi kaum muslimin, sebab peristiwa tersebut memunculkan masalah-masalah yang lain yang berkepanjangan dan merugikan kaum muslimin.
D. Khalifah Ali bin Abi Thalib ( 35 – 40 H/ 656 – 661 M ).
a. Ali bin Abi Thalib menjadi Khalifah.
Setelah wafatnya Ustman bin Affan, kaum muslimin menjadi kesulitan mencari Kalifah pengganti Khalifah Ustman ra. Tokoh-tokoh yang dianggap layak seperti Ali bin Abi Thalib, Abdulloh bin Umar, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Zubair bin Awwam menolak menjadi Khalifah. Maka dari itu di madinah diadaka diskusi antara tokoh kaum muslimin dalam menunjuk Khalifah yang baru. Dari diskusi tersebut tetap gak ada orang yang pantas menduduki ke Khalifahan saat itu selain Ali bin Abi Thalib, karena selain putra paman Nabi beliau juga pemuda yang masuk Islam pertama kali dan banyak membantu perjuangan Nabi SAW. Dan mayoritas dari semua yang hadir memilihnya dan membaiatnya sebagai Khalifah ke – 4setelah Ustman bin Affan.
b. Prestasi-prestasi Khalifah Ali bin Abi Thalib.
1. Membersihkan para pejabat yang korup.
2. Memadamkan pemberontakan-pemberontakan di kalangan umat islam.
E. Ibrah dari prestasi-prestasi yang dicapai oleh Khulafaurrasyidin .
Beliau semua telah membuktikan pengabdiannya yang mulia kepada umat dan agama islam. Mereka memerintah dengan penuh rasa tanggung jawab ( amanah ), tegas, demokratis, kharismatik, dan selalu disertai dengan mengedepankan kepentingan umat dan agama dari pada kepentingan pribadi.
Khulafaurrasyidin telah berhasil menyelamatkan islam, mengonsolidasikan, dan meletakkan dasar-dasar kehidupan bagi agama islam dan umatnya. Menjadi motivasi bagi para pemimpin selanjutnya untuk meningkatkan kemajuan peradapan umat islam dalam berbagai bidang. Baik prestasi maupun apa saja yang sudah diraih pada masa Khulafaurrasyidin.
Untuk pemimpin islam masa kini dan yang akan datang, sebenarnya banyak ibrah yang dapat kita ambil dalam menyejahterakan dan memajukan masyarakat. Itu sangat kelihatan dari sikap mereka mencurahkan kemampuan dan perhatiannya kepada kemajuan masyarakat yang dipimpin. Ia tidak akan mementingkan diri sendiri dan keluarganya, tetapi memintingkan kemajuan masyarakat luas ( bangsa dan Negara ). Diatas kepentingannya pribadi dan keluarganya.
F. Meneladani gaya hidup Khulafaurrasyidin
Khulafaaurrasyidin bukan berasal dari orang tak mampu, tetapi mereka adalah orang-orang yang pandai berdagang dan mampu mengumpulkan karunia Allah SWT ( keuntungan ) yang melimpah dari usahanya tersebut. Ketika Rasulallah masih hidup, tidak sedikit emas, perak, uang, dan bahan makanan yang disumbangkan untuk kepentingan agama.
Di samping dermawan, Khulafaurrasyidin terkenal dengan kesederhanaannya. Baik dalam berpakaian yang mereka kenakan, makanan yang mereka konsumsi, rumah atau tempat tinggal mereka, keadaaannya sama dengan rakyat biasa.
Dalam menegakkan kebenaran, mereka dikenal sebagai orang-orang tegas dan berani. Mereka berani berkorban nyawa demi menegakkan kebenaran. Setelah kita mempelajari gaya kepemimpinannya Khulafaurrasyidin dan sebagian prestasi-prestasi yang mereka raih, kita dapat mengambil ibrah untuk kita teladani dalam kehidupan sehari- hari. Di antaranya :
1. Memiliki tanggung jawab tinggi dalam menyebarkan dan membela agama Allah SWT.
2. Memiliki kesetiaan dan kecintaan terhadap rasulallah SAW dan ajarannya.
3. Mendahulukan kepentingan agama dan rakyat.
4. Memiliki sikap berani dan tegas dalam membela kebenaran.
5. Tidak menyalah gunakan wewenang/ jabatan.

Kesimpulan
Khulafaurrasyidin berarrti pemimpin-pemimpin yang mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Mereka adalah Abu Bakar Ash-Sidiq, Umar bin Khatab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib yang melanjutkan kepemimpinan dunia islam setelah Rasulallah SAW wafat.
Khulafaurrasyidin memegang tumpu kepemimpinan umat islam selam kurang lebih 29 tahun antara tahun 11- 41 H. Di zaman Khalifah Abu bakar Ash-Sidiq muncul golongan / kaum murtad yang dipimpin oleh Musailamah Al Kazzab yang enggan membayar zakat dan mengaku sebagai Nabi. Kaum tersebut dapat ditumpas.
Puncak kejayaan kaum muslimin di zaman Khalifah Umar bin Khatab. Pada masanya benteng romawi dan Persia dapat dikalahkan, rahmat islam disebarkan untuk membebaskan kaum tertindas akibat penguasa-penguasa yang dzalim.

Jumat, 06 November 2015

BNPT: Direktur BP Batam Diduga Gabung ISIS Didasari Ideologi

 Terungkapnya dugaan keterlibatan sebuah keluarga kelas menengah di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, yang bergabung dengan kelompok militan ISIS di Suriah, menunjukkan bahwa masalah ekonomi bukanlah satu-satunya faktor yang menjadi daya tarik.
Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irfan Idris mengatakan, latar belakang keluarga berinisial DJW yang menjabat sebagai direktur di Badan Pengusahaan Kawasan Batam semakin menguatkan dugaan bahwa yang direkrut ISIS bukan orang-orang bodoh.
"Apa yang terjadi di Batam merupakan contoh bahwa mereka bergabung ISIS lebih didasari ideologi. Jadi, motif ekonomi tidak sepenuhnya benar," kata Irfan Idris kepada wartawan BBC Indonesia, Jumat 6 November 2015 petang, seperti dikutip dari BBC, Sabtu (7/11/2015).
Keluarga Batam, DJW bersama istri dan anak-anaknya dilaporkan diduga telah bergabung dengan kelompok militan ISIS melalui Turki.
Mengutip keterangan sejumlah pejabat di Badan Pengusahaan (BP) Kawasan Batam, DJW tidak pernah masuk kerja semenjak mengambil cuti pada Agustus lalu. Sebelumnya, Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti mengatakan sudah mengetahui informasi bahwa Direktur Pelayanan Terpdadu Satu Pintu (PTSP) Badan Pengusahaan Kawasan Batam, DJW, diduga bergabung dengan ISIS di Suriah.
"Sudah ditelusuri, dari Densus 88 Mabes Polri sudah turun. Beberapa orang sudah diambil keterangan," kata Badrodin, Kamis 5 November 2015 di Jakarta.
Lebih lanjut Irfan Idris mengatakan, dugaan bergabungnya DJW dan keluarganya di Batam dengan kelompok militan ISIS di Suriah tidak menutup kemungkinan juga terjadi di daerah lain di Indonesia.
Ketika ditanya berapa jumlah WNI yang diperkirakan telah bergabung dengan kelompok militan tersebut, Irfan tidak berani berspekulasi.
"Angkanya bisa lebih besar atau kurang dari 500 WNI yang diungkap Badan Intelijen Nasional (BIN)," beber Irfan. Hal ini dia tekankan karena jalan masuk yang dipergunakan WNI untuk berangkat ke Suriah atau Irak tidak satu pintu.
"Terungkap bergabungnya Wildan Mukhollad dari Jatim yang bergabung dengan ISIS, ternyata dia masuk lewat Mesir. Selama ini kan yang disebut pintu masuknya lewat Turki," kata dia.
Wildan Mukhollad, warga Lamongan, Jatim, diketahui telah tewas di Irak dalam peristiwa bom bunuh diri pada awal 2014.
Kelemahan Hukum
Irfan Idris kembali menegaskan, otoritas hukum Indonesia tidak bisa menindak WNI yang mendukung ISIS karena tidak ada dasar hukum yang mengaturnya. Dia kemudian memberikan contoh ketika aparat keamanan tidak dapat melakukan upaya hukum terhadap seorang pria bernama Cep Hemawan di Cianjur, Jawa Barat, yang mengaku ditunjuk sebagai pimpinan ISIS di Indonesia.
"Dia mengaku sudah mengumpulkan banyak uang lalu merekrut ratusan orang untuk dikirim ke Suriah atau Irak. Tapi kita tidak menindaknya secara hukum, karena tidak ada dasar hukumnya," ungkap Irfan.
Pada Juli 2015, otoritas Australia juga mengungkap dugaan keterlibatan satu pilot Indonesia yang mendukung dan bergabung dengan ISIS di Suriah. Akan tetapi aparat Indonesia hanya bisa "mengawasinya".
"Karena itulah, BNPT saat ini lebih memperkuat upaya pencegahan, dengan prioritas kepada generasi muda agar tidak mengikuti ideologi ISIS," imbuh Irfan.
Walaupun demikian, sejauh ini di Pengadilan Negeri Jakarta Barat sudah digelar persidangan terhadap sejumlah warga Indonesia yang diduga sebagai simpatisan atau anggota ISIS.
Mereka dijerat dengan UU Anti-terorisme dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun pidana penjara. Mereka diketahui antara lain berasal dari Malang, Solo, dan Tulungagung

Copyright @ 2013 Cinta Islam.