Tampilkan postingan dengan label Keagamaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keagamaan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 November 2015

KEUTAMAAN MENYANTUNI ANAK YATIM

 Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا » وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً
“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya[1].
Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan pahala orang yang meyantuni anak yatim, sehingga imam Bukhari mencantumkan hadits ini dalam bab: keutamaan orang yang mengasuh anak yatim.
Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:
Makna hadits ini: orang yang menyantuni anak yatim di dunia akan menempati kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam[2].
Arti “menanggung anak yatim” adalah mengurusi dan memperhatikan semua keperluan hidupnya, seperti nafkah (makan dan minum), pakaian, mengasuh dan mendidiknya dengan pendidikan Islam yang benar[3].
Yang dimaksud dengan anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal oleh ayahnya sebelum anak itu mencapai usia dewasa[4].
Keutamaan dalam hadits ini belaku bagi orang yang meyantuni anak yatim dari harta orang itu sendiri atau harta anak yatim tersebut jika orang itu benar-benar yang mendapat kepercayaan untuk itu[5].
Demikian pula, keutamaan ini berlaku bagi orang yang meyantuni anak yatim yang punya hubungan keluarga dengannya atau anak yatim yang sama sekali tidak punya hubungan keluarga dengannya[6].
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan mengasuh anak yatim, yang ini sering terjadi dalam kasus “anak angkat”, karena ketidakpahaman sebagian dari kaum muslimin terhadap hukum-hukum dalam syariat Islam, di antaranya:
1. Larangan menisbatkan anak angkat/anak asuh kepada selain ayah kandungnya, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
{ادْعُوهُمْ لِآَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آَبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ}
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak (kandung) mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu” (QS al-Ahzaab: 5).
2. Anak angkat/anak asuh tidak berhak mendapatkan warisan dari orang tua yang mengasuhnya, berbeda dengan kebiasaan di zaman Jahiliyah yang menganggap anak angkat seperti anak kandung yang berhak mendapatkan warisan ketika orang tua angkatnya meninggal dunia[7].
3. Anak angkat/anak asuh bukanlah mahram[8], sehingga wajib bagi orang tua yang mengasuhnya maupun anak-anak kandung mereka untuk memakai hijab yang menutupi aurat di depan anak tersebut, sebagaimana ketika mereka di depan orang lain yang bukan mahram, berbeda dengan kebiasaan di masa Jahiliyah.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kamis, 05 November 2015

Balasan Bagi Orang Yang Sombong Disebutkan Di Al-Qur'an




  Kesombongan Membawa Kepada Kehinaan Di Dunia Dan Di Akhirat

Orang yang sombong akan mendapat kehinaan di dunia ini berupa kejahilan, sebagai balasan dari perbuatannya. Perhatikanlah firman Allah s.w.t. , artinya: Aku akan memalingkan (hati) orang-orang yang sombong takbur di muka bumi dengan tiada alasan yang benar dari (memahami) ayat-ayatKu (yang menunjukkan kekuasaanKu)” (QS. Al-'Araf: 146)

Maksudnya, iaitu, Aku (Allah) halangi mereka dari memahami hujah-hujah dan dalil-dalil yang menunjukkan tentang keagungan-Ku, syari'at-Ku, hukum-hukum-Ku pada hati orang-orang yang sombong untuk ta'at kepada-Ku dan sombong kepada manusia tanpa alasan yang benar, sebagaimana mereka sombong tanpa alasan yang benar, maka Allah hinakan mereka dengan kebodohan (kejahilan). (Tafsir Ibnu Katsir 2/228)

Dan orang yang sombong di akhirat dihinakan oleh Allah s.w.t. dengan mengecilkan saiz tubuh mereka sekecil semut dan kehinaan datang kepada mereka dari segenap penjuru , hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadis berikut:


"Orang-orang yang sombong akan dihimpunkan pada hari kiamat seperti dalam bentuk semut-semut kecil dengan rupa manusia, dari segala tempat datang kehinaan kepada mereka, mereka digiring ke penjara neraka jahannam yang di sebut Bulas, di bahagian atasnya api yang menyala-nyala dan mereka diberi minuman dari kotoran penghuni neraka".

(HR. Tirmizi & Ahmad, dihasankan oleh Syeikh Al-Albani dalam Al-Misykat)

Ciri2 orang yang sombong :
• Mempunyai akhlak yang buruk
• Bila berbicara tiada adab
• Suka membesarkan2 diri
• Memandang serong orang lain
• Memandang rendah kelemahan org lain
• Menganggap diri no.1
• Kurang amal ibadat
• Mengejar keduniaan dengan meninggalkan akhirat ke belakang
• Suka mencari kesalahan orang lain
• Tidak boleh ditegur
• Hanya berkawan dengan orang yg setaraf

banyak lagi ciri2 yg x disebutkan di cni...sama2 kita berdoa agar x termasuk dalam ciri2 tersebut...........

Kebodohan adalah sumber segala malapetaka
Allah sangat mencela orang-orang yang jahil dan orang-orang yang selesa dengan kejahilannya, Allah s.w.t. berfirman, artinya: Sesungguhnya sejahat-jahat makhluk yang melata, pada sisi (hukum dan ketetapan) Allah, ialah orang-orang yang pekak lagi bisu, yang tidak mahu memahami sesuatu pun (dengan akal fikirannya). ” (QS. Al-Anfal:22)
Allah s.w.t menghina orang-orang yang tidak mahu menerima kebenaran dan tidak mahu mengatakan yang haq, sehingga orang tersebut tidak memahami ayat-ayat-Nya yang pada akhirnya menyebabkan dia menjadi seorang yang jahil dan tidak mengerti apa-apa; dan kejahilan itulah bentuk kehinaan bagi orang-orang yang sombong.

Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi Pada Hari Jum'at

 

  Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.
Hari Jum’at merupakan hari yang mulia. Bukti kemuliaannya, Allah mentakdirkan beberapa kejadian besar pada hari tersebut. Dan juga ada beberapa amal ibadah yang dikhususkan pada malam dan siang harinya, khususnya pelaksanaan shalat Jum’at berikut amal-amal yang mengiringinya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ
"Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling afdhal adalah hari Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga ditiup sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk. . . . " (HR. Abu Dawud, an Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan al Hakim dari hadits Aus bin Aus)
Amal Khusus di Hari Jum'at
Pada dasarnya, tidak dibolehkan menghususkan ibadah tertentu pada malam Jum’at dan siang harinya, berupa shalat, tilawah, puasa dan amal lainnya yang tidak biasa dikerjakan pada hari-hari selainnya. Kecuali, ada dalil khusus yang memerintahkannya. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu, bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda;
لَا تَخُصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي ، وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ ، إلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ
“Janganlah menghususkan malam Jum’at untuk mengerjakan shalat dari malam-malam lainnya, dan janganlah menghususkan siang hari Jum’at untuk mengerjakan puasa dari hari-hari lainnya, kecuali bertepatan dengan puasa yang biasa dilakukan oleh salah seorang kalian.” (HR. Muslim, al-Nasai, al-Baihaqi, dan Ahmad)
Membaca Surat Al-Kahfi
Salah satu amal ibadah khusus yang diistimewakan pelakasanaannya pada hari Jum’at adalah membaca surat Al-Kahfi. Berikut ini kami sebutkan beberapa dalil shahih yang menyebutkan perintah tersebut dan keutamaannya.
1. Dari Abu Sa'id al-Khudri radliyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
    مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ
    "Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul 'atiq." (Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 736)
    2. Dalam riwayat lain masih dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu 'anhu,
      مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ أَضَآءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ
      "Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum'at." (HR. Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249. Ibnul Hajar mengomentari hadits ini dalam Takhrij al-Adzkar, “Hadits hasan.” Beliau menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits paling kuat tentang surat Al-Kahfi. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jami’, no. 6470)
      3. Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
        مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ سَطَعَ لَهُ نُوْرٌ مِنْ تَحْتِ قَدَمِهِ إِلَى عَنَانِ السَّمَاءَ يُضِيْءُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَغُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ
        “Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.”
        Al-Mundziri berkata: hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Mardawaih dalam tafsirnya dengan isnad yang tidak apa-apa. (Dari kitab at-Targhib wa al- Tarhib: 1/298)”
        Kapan Membacanya?
        Sunnah membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum’at atau pada hari Jum’atnya. Dan malam Jum’at diawali sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis. Kesempatan ini berakhir sampai terbenamnya matahari pada hari Jum’atnya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kesempatan membaca surat Al-Kahfi adalah sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis sore sampai terbenamnya matahari pada hari Jum’at.
        Imam Al-Syafi'i rahimahullah dalam Al-Umm menyatakan bahwa membaca surat al-Kahfi bisa dilakukan pada malam Jum'at dan siangnya berdasarkan riwayat tentangnya. (Al-Umm, Imam al-Syafi'i: 1/237).
        Mengenai hal ini, al-Hafidzh Ibnul Hajar rahimahullaah mengungkapkan dalam Amali-nya: Demikian riwayat-riwayat yang ada menggunakan kata “hari” atau “malam” Jum’at. Maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud “hari” temasuk malamnya. Demikian pula sebaliknya, “malam” adalah malam jum’at dan siangnya. (Lihat: Faidh al-Qadir: 6/199).
        DR Muhammad Bakar Isma’il dalam Al-Fiqh al Wadhih min al Kitab wa al Sunnah menyebutkan bahwa di antara amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan pada malam dan hari Jum’at adalah membaca surat al-Kahfi berdasarkan hadits di atas. (Al-Fiqhul Wadhih minal Kitab was Sunnah, hal 241).
        Kesempatan membaca surat Al-Kahfi adalah sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis sore sampai terbenamnya matahari pada hari Jum’at.
        Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi di Hari Jum’at
        Dari beberapa riwayat di atas, bahwa ganjaran yang disiapkan bagi orang yang membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum’at atau pada siang harinya akan diberikan cahaya (disinari). Dan cahaya ini diberikan pada hari kiamat, yang memanjang dari bawah kedua telapak kakinya sampai ke langit. Dan hal ini menunjukkan panjangnya jarak cahaya yang diberikan kepadanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
        يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ
        “Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.” (QS. Al-Hadid: 12)
        Balasan kedua bagi orang yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at berupa ampunan dosa antara dua Jum’at. Dan boleh jadi inilah maksud dari disinari di antara dua Jum’at. Karena nurr (cahaya) ketaatan akan menghapuskan kegelapan maksiat, seperti firman Allah Ta’ala:
        إن الحسنات يُذْهِبْن السيئات
        “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Huud: 114)
        Surat Al-Kahfi dan Fitnah Dajjal
        Manfaat lain surat Al-Kahfi yang telah dijelaskan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah untuk menangkal fitnah Dajjal. Yaitu dengan membaca dan menghafal beberapa ayat dari surat Al-Kahfi. Sebagian riwayat menerangkan sepuluh yang pertama, sebagian keterangan lagi sepuluh ayat terakhir.
        Imam Muslim meriwayatkan dari hadits al-Nawas bin Sam’an yang cukup panjang, yang di dalam riwayat tersebut Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,  “Maka barangsiapa di antara kamu yang mendapatinya (mendapati zaman Dajjal) hendaknya ia membacakan atasnya ayat-ayat permulaan surat al-Kahfi.”
        Dalam riwayat Muslim yang lain, dari Abu Darda’ radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat dari permulaan surat al-Kahfi, maka ia dilindungi dari Dajjal.” Yakni dari huru-haranya.
        Imam Muslim berkata, Syu’bah berkata, “Dari bagian akhir surat al-Kahfi.” Dan Hammam berkata, “Dari permulaan surat al-Kahfi.” (Shahih Muslim, Kitab Shalah al-Mufassirin, Bab; Fadhlu Surah al-Kahfi wa Aayah al-Kursi: 6/92-93)
        Imam Nawawi berkata, “Sebabnya, karena pada awal-awal surat al-Kahfi itu tedapat/ berisi keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda kebesaran Allah. Maka orang yang merenungkan tidak akan tertipu dengan fitnah Dajjal. Demikian juga pada akhirnya, yaitu firman Allah:
        أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِنْ دُونِي أَوْلِيَاءَ
        “Maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? . . .” QS. Al-Kahfi: 102. (Lihat Syarah Muslim milik Imam Nawawi: 6/93)
        Penutup
        Dari penjelasan-penjelasan di atas, sudah sepantasnya bagi setiap muslim untuk memiliki kemauan keras untuk membaca surat Al-Kahfi dan menghafalnya serta mengulang-ulangnya. Khususnya pada hari yang paling baik dan mulia, yaitu hari Jum’at. Wallahu Ta’aa a’lam
        - See more at: http://www.voa-islam.com/read/ibadah/2011/02/03/13112/keutamaan-membaca-surat-alkahfi-pada-hari-jumat/;#sthash.8e47bmbA.dpuf

        Sabtu, 31 Oktober 2015

        Tujuh Golongan Yang Mendapat Pertolongan Allah Di Padang Mahsyar


        Tahukah anda? Islam menyediakan semua jawapan tentang hidup kita. Samada tentang yang terang atau permasalahan yang ghaib, tentang sejarah serta masa depan; tentang Hidup di Dunia dan Akhirat. Rahsia demi rahsia semuanya boleh dirungkai asal kita dapat mencari kuncinya.
        Padang Mashyar Panas Sahara
        Padang mashyar tempat berkumpulnya manusia setelah dibangkitkan dari mati. [Gordon]
        Nak mendapat pertolongan Allah swt di Padang Masyhar nanti? Pun sudah ada jawapan. Bukan satu atau dua, tapi ada banyak cara. Tinggal nak ikut atau tidak sahaja. Tinggal nak buat atau tidak sahaja. Jadi, yang mana satu kita?
        Rasulullah saw telah pun membuka rahsia ini lebih 1400 tahun dahulu. Sabda Baginda saw seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra yang bermaksud:
        “Tujuh golongan Allah akan menaungi mereka pada hari yang tiada naungan melainkan naunganNya; Pertama: Imam (pemimpin) yang adil. Kedua: Pemuda yang membesar dengan beribadah kepada Allah. Ketiga: Insan yang hatinya terpaut dengan masjid.
        Keempat: Dua insan yang berkasih sayang kerana Allah, mereka bertemu dan berpisah kerana Allah. Kelima: Insan yang diajak (digoda) oleh wanita yang berpangkat dan cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takutkan Allah.’ Keenam: Insan yang bersedekah dengan cara yang tersembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dibelanjakan oleh tangan kanannya. Ketujuh: Insan yang mengingati Allah secara bersunyian lalu menitiskan air matanya.”
         Riwayat Bukhari dan Muslim

        #1 – Imam (Pemimpin) Yang Adil

        Siapa itu imam dan pemimpin? Kepimpinan boleh jadi dalam konteks yang besar dan khas seperti Pemimpin Negara, Pemimpin Masyarakat, Imam, Penghulu, Ketua Polis dan Hakim.
        Pemimpin juga boleh jadi dalam konteks umum seperti Ketua Rumah Tangga (Suami dan ayah), Ketua Pengawas Sekolah, Pengetua ataupun sekadar Ketua Kumpulan bagi aktiviti rekreasi dan riadah yang dirancang bersama kawan-kawan.
        Apabila ada yang memimpin dan ada yang dipimpin, maka wujud dunia kepimpinan di situ. Bagaimana pula dengan diri kita? Adakah kita pemimpin kepada diri sendiri? Rasulullah saw menekankan soal kepimpinan sehingga diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra yang bermaksud:
        “Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya.
        Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang isteri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya.
        Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.”
         Riwayat Muslim: 3408
        Allah swt mewajibkan keadilan sehingga ada lebih dari 50 ayat di dalam Al-Qur’an yang menceritakan tentang keadilan. Adil di dalam Islam bermaksud meletakkan sesuatu pada tempatnya.
        Persoalannya, bagaimana untuk menimbang dan membanding tempat yang betul bagi setiap perkara itu? Sebenarnya Rasulullah saw telah pun memberi contoh melalui syari’at, peraturan, penetapan dan undang-undang yang telah Allah swt maktubkan di dalam Al-Qur’an dan hadith.
        Ayah Anak Solat Pemimpin
        Seorang ayah juga pemimpin untuk anak dan keluarga. [areMaL]
        Lengkapnya panduan yang Rasulullah saw tinggalkan untuk kita sehingga meliputi semua aspek seperti kekeluargaan, kemasyarakatan, politik, ekonomi, undang-undang, global, sejarah, kesihatan dan sains sehingga tiada alasan untuk kita menidakkan Islam dalam apa-apa perkara sekalipun.
        Kerana inilah pentingnya ilmu untuk seorang Muslim belajar bagi mengetahui syari’at yang paling asas, sekalipun sehingga syari’at yang di bawah amanah dan tanggungjawabnya agar mampu memimpin diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Supaya nanti setiap keputusan yang dibuat adalah meletakkan sesuatu pada tempat yang telah ditetapkan mengikut neraca Islam dan neraca Allah swt.

        #2 – Pemuda Yang Membesar Dengan Beribadah

        Beribadah di sini bukan hanya tertumpu kepada ibadah khusus seperti solat lima waktu, puasa, zakat dan mengerjakan haji.
        Malah konteks ibadah termasuk menjaga adab dan akhlak di dalam pergaulan, penggerak contoh teladan kepada yang lebih kecil, bertanggungjawab, bersungguh-sungguh mendalami ilmu dan istiqamah dalam amalannya.
        Betapa pentingnya masa muda ini sehingga turut ditegaskan lagi di dalam hadith Rasulullah saw yang lain sebagai bermaksud:
        “Pada hari Kiamat tidak seorang pun hamba diperkenankan meninggalkan posisinya kecuali ditanya lima perkara; tentang penggunaan umurnya, masa mudanya, kekayaannya dari mana dia peroleh dan untuk apa digunakan dan apa yang dilakukan terhadap ilmunya.”
         Riwayat Tirmidzi: 2416
        Menurut Syeikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah, kepentingan para pemuda sebagai pembangun dan penegak Islam amat ditekankan di dalam hadith-hadith Rasulullah saw sehingga sering berada di bahagian permulaan hadith.
        Peranan pemuda cukup besar dan merupakan aset yang sangat berharga kerana ketika usia mudalah segala kudratnya kuat, mindanya tajam, tenaganya ampuh, geraknya pantas dan langkahnya cergas.
        Pemuda Taat Redha Allah
        Pemuda yang taat dan redha kepada Allah pasti mendapat belas kasihNya. [Rafiq]
        Ketika inilah seorang pemuda mampu bangkit dan berjihad untuk Allah swt dan RasulNya dalam pelbagai cabang yang diceburi dalam kehidupannya. Maka saat-saat muda harus dimanfaatkan dengan sepenuhnya dalam pengabdian dan ketaatan kepada Allah swt.
        Namun begitu, nafsu di kala berdarah muda ini juga berkeadaan sangat liar dan membara. Amarahnya cukup mudah. Egonya juga agak tinggi. Kematangannya belum ranum. Godaan dunia itu sangat kuat menekan minda dan akalnya.
        Maka seorang pemuda yang berjaya menjinakkan nafsunya dan mengawal emosi atas dasar sentiasa ingat dan tunduk patuh pada Allah swt membuktikan kekuatan dan ketaatan yang ada pada dirinya. Dengan segala macam kekuatan dan kenikmatan yang diberi Allah swt ketika waktu muda, di manakah kita habiskannya?

        #3 – Insan Yang Hatinya Terpaut Dengan Masjid

        Menyelusuri sejarah, peranan masjid sangat utama sebagai pusat ibadah, menyebarkan ilmu, pemerintahan kerajaan, perbincangan permasalahan ummah dan aktiviti kemasyarakatan yang mengukuhkan persaudaraan dan silaturrahim umat Islam dari segi politik, sosial dan ekonomi.
        Rasulullah saw, para khalifah ar Rasyidin dan Pemerintahan Khilafah Islam telah memberi contoh bagaimana masjid mesti diimarahkan untuk mengajak lebih ramai lagi yang mendatanginya dan bagaimana fungsinya begitu mustahak untuk kesinambungan syiar Islam di atas bumi Allah swt.
        Para pencinta masjid adalah mereka yang terus-menerus melaksanakan semua peranan ini di masjid bagi menjaga kemasylahatan umat. Samada mereka adalah yang memimpin, mentadbir, mengurus, menganjurkan aktiviti-aktivi bermanfaat di masjid mahupun yang terlibat dan menghadirinya.
        Merekalah para tetamu Allah swt yang suka kepada kebaikan, menuturkan kebaikan dan mengajak kepada kebaikan dalam mengingati Allah swt. Besarnya amanah dan tanggungjawab ini sebenarnya sehingga Allah swt bukan hanya menaungi mereka di akhirat malah juga memuliakan mereka di dunia seperti hadith yang menyebut:
        Dari Abu Hurairah ra dan Abu Said al Khudri ra keduanya bersaksi bahawa Nabi saw bersabda:
        “Tidaklah satu kelompok yang duduk mengingati Allah kecuali para malaikat menaungi mereka dengan sayap-sayapnya, dan rahmat Allah meliputi mereka, sakinah turun ke atas mereka dan Allah menyebut mereka dalam majlis para malaikat.”
         Riwayat Muslim
        Rahmat Allah swt yang luas juga diberikan kepada mereka yang begitu terikat hatinya pada Rumah Allah walau dalam keadaan sembunyi seperti hadith berikut:
        Dari Abu Hurairah ra meriwayatkan bahawa baginda Rasulullah saw bersabda:
        “Orang yang sentiasa berulang-alik ke masjid di dalam kegelapan malam mereka itulah orang yang hati sanubarinya tenggelam di dalam rahmat Allah.”
         Riwayat Ibn Majah

        #4 – Dua Insan Bertemu & Berpisah Kerana Allah

        Apakah makna kerana Allah swt? Adakah mereka ini hanya bertemu dan berpisah seperti khalayak biasa atau ada makna lain di sebalik ukhwah dan ziarah menziarahi mereka? Allah swt berfirman:

        alhujurat10
        Sebenarnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kamu (yang bertelingkah) itu; dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beroleh rahmat. (Surah Al-Hujurat: 10)

        Iman seorang hamba itu diiringi dengan bersaudara dan berkasih sayang. Melalui kasih sayang, maka seorang sahabat atau jiran boleh datang bersilaturrahim tanpa prejudis. Mereka saling memberi dan menerima lalu wujudlah suasana yang harmoni.
        Yang paling indah, mereka saling nasihat-menasihati dan mengingati sesama sendiri agar tetap mencintai Allah swt. Lalu bersama-samalah mereka menyokong dan bersegera dalam kerja-kerja kebajikan.
        Tidak wujud hasad dan dengki di dalam hati mereka melainkan mengharapkan yang terbaik untuk saudara mereka. Mereka memilih untuk saling menghormati dan melindungi diri, keluarga dan harta benda sesama mereka seperti menjaga diri, keluarga dan harta sendiri.
        Sahabat yang berkasih sayang bertemu dan berpisah kerana Allah swt [kupih]
        Sahabat yang berkasih sayang bertemu dan berpisah kerana Allah swt [kupih]
        Andai ditakdirkan perpisahan, mereka tidak bersedih hati kerana peringatan tentang keutamaan mendahului Allah swt itu menjadi pegangan dan prinsip mereka dalam menyebarkan kasih sayang Allah. Kasih sayang ini membentuk kekuatan yang luar biasa sehingga Umat Islam bersatu dalam jihad di jalan Allah swt.
        Hari ini kita lihat nilai kemanusiaan semakin terhakis. Sikap mementingkan diri jelas sehingga jiran sebelah rumah pun tidak kenal. Budi bukan suatu yang dipandang tinggi melainkan diletak harga material padanya.
        Adakah berkasih sayang itu telah jadi suatu yang mustahil di zaman ini? Ayuh! Kita mulakan dengan yang paling mudah sekali seperti anjuran Rasulullah saw di dalam hadith di bawah:
        “Demi yang diriku di dalam genggamanNya, kamu tidak akan masuk syurga sehingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman sehingga kamu berkasih sayang. Mahukah kamu aku (nabi) tunjukkan sesuatu yang apabila kamu melakukannya maka akan lahirlah kasih sayang? Sebarkan salam di antara kamu.”
         Riwayat Muslim dari Abu Hurairah

        #5 – Insan Yang Menolak Godaan Wanita

        Wanita, godaan dan fitnah darinya sering menjadi peringatan para nabi dan rasul kepada umat masing-masing. Samada kisah Hawa yang memujuk Nabi Adam as memakan buah larangan sehingga tercampak keluar dari syurga.
        Atau kisah Nabi Yusuf as yang menolak godaan Zulaikha dengan tegas kerana takutkan Tuhannya; kedua-dua kisah ini mempunyai pengajarannya sendiri. Manusia dicipta dengan nafsu dan beruntunglah mereka yang kuat menjaga maruahnya agar tidak tertipu dan terpedaya dengan keseronokkan sementara lakonan dunia.
        Takut Akan Allah
        Sentiasalah ingat dan takut akan Allah agar dapat mengelakkan diri dari maksiat. [Taqi]
        Di mana Tuhan? Bagaimana Tuhan? Suatu yang tidak pernah dilihat oleh mata kepala sehingga sering manusia terlalai dan terlupa. Oleh itu, sangat hebatlah apabila seorang hamba mengelak ujian ini semua dengan kesedaran yang tinggi bahawa Allah swt sentiasa mengawasinya.
        Justeru golongan yang sentiasa takutkan Allah swt ternyata mempunyai tingkat taqwa yang sangat tinggi sehingga setiap detik hidupnya mampu dirasakan kehadiran Allah swt. Menurut menantu Rasulullah saw, Saidina Ali bin Abi Talib apabila ditanya tentang taqwa beliau menjawab:
        “Taqwa adalah takut kepada Allah Yang Maha Agung, mengamalkan wahyu, puas terhadap yang sedikit dan bersiap-siap untuk menghadapi Hari Kebangkitan.”
        Dari sini difahamkan bahawa seorang yang takut pada Allah swt bukan sahaja berusaha mengelak dari godaan nafsu malah sentiasa bersiap siaga berdepan hari Kebangkitan dalam apa jua aspek. Bahkan tidak hairanlah kedudukan mereka dilindungi Allah swt di hari Kiamat atas ganjaran buat segala persiapan yang mereka lakukan sepanjang hidup lagi.

        #6 – Insan Yang Ikhlas Bersedekah

        Tangan kiri berada sangat dekat dengan tangan kanan. Namun apa yang dilakukan oleh tangan kanan tidak disedari oleh tangan kiri. Inilah ikhlas; melakukan sesuatu tanpa mengharap balasan dan pujian dari manusia.
        Apabila bimbang pada kemungkinan untuk menjadi riak dan ujub, maka amalan-amalan itu lebih baik disembunyikan dari khalayak. Diantara ungkapan Saidina Ali bin Abi Talib yang boleh menjadi pelajaran adalah:
        “Suatu keburukan yang menyesakkanmu lebih baik di sisi Allah daripada kebaikan yang membuatmu ujub.”
        Ada manusia mengerjakan suatu kebajikan kerana ingin menunjuk-nunjuk pada yang lain. Kesombongan dan ketakburannya terserlah pada akhlak yang keji sehingga menghina orang lain walaupun ketika melakukan suatu ibadah yang mulia seperti bersedekah. Allah melarang sikap ini dan amalan yang tidak diterima diumpamakan seperti di dalam firmanNya:

        albaqarah263
        (Menolak peminta-peminta sedekah) dengan perkataan yang baik dan memaafkan (kesilapan mereka) adalah lebih baik daripada sedekah (pemberian) yang diiringi (dengan perbuatan atau perkataan yang) menyakitkan hati. Dan (ingatlah), Allah Maha Kaya, lagi Maha Penyabar. (Surah Al-Baqarah: 263)
        albaqarah264
        Wahai orang-orang yang beriman! Jangan rosakkan (pahala amal) sedekah kamu dengan perkataan membangkit-bangkit dan (kelakuan yang) menyakiti, seperti (rosaknya pahala amal sedekah) orang yang membelanjakan hartanya kerana hendak menunjuk-nunjuk kepada manusia (riak), dan ia pula tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat. Maka bandingan orang itu ialah seperti batu licin yang ada tanah di atasnya, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu ditinggalkannya bersih licin (tidak bertanah lagi). (Demikianlah juga halnya orang-orang yang kafir dan riak itu) mereka tidak akan mendapat sesuatu (pahala) pun dari apa yang mereka usahakan. Dan (ingatlah), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. (Surah Al-Baqarah: 264)

        Bersedekahlah. Melaluinya dihubungkan silaturrahim, dikongsi kasih sayang, membersihkan harta, membersihkan hati dan diredhai Allah swt. Namun buatlah dengan beradab. Kerana Allah swt tidak menilai besar kecilnya tapi Allah swt menilai ikhlas, taqwa dan tawadhuk si pemberi sedekah itu.

        #7 – Insan Yang Menangis Mengingati Allah

        Apa yang diingati seorang hamba terhadap Tuhannya? Takut bila mengenangkan dosa-dosa yang menggunung dan azab keras yang menanti di akhirat. Rasa syukur pada nikmat-nikmat yang tidak terhitung dari Tuhan setiap hari untuknya. Sedar pada setiap teguran yang disampaikan lewat dugaan dan ujian.
        Gembira pada khabar berita ganjaran-ganjaran indah di kerajaan syurga. Terharu pada kasih sayang yang mencurah-curah dari Tuhan semesta alam untuknya. Rindu pada wajah Kekasih yang tak pernah curang dan gelisahnya menanti saat kembali untuk akhirnya bertemu.
        Berdoa
        Allah menyukai insan yang mengingati-Nya secara sendirian, lalu menitiskan air mata.
        Terlalu banyak. Malam yang hening,ini hanya ada kamu dan Tuhan. Memikirkan kebesaranNya dan betapa bodohnya diri sendiri, adakah masih tidak mampu mengundang tangis? Rasulullah saw bersabda:
        “2 mata, yang keduanya tidak akan tersentuh api Neraka iaitu mata yang menangis kerana takut kepada Allah, mata yang di malam hari berjaga-jaga (dari musuh) di jalan Allah.”
         Riwayat Tirmidzi, kitab Fadbaa-ilil jibaad ‘an Rasulillaah, bab Maa Jaa-a fii Harasi fii sabilillaah: 3829
        Terlalu keras sekeping hati yang tidak mampu untuk menangis bila mengingati Tuhan. Sedarkah? Apa sudah cukup selamatkah keberadaan kita di dunia dan sudah cukup terjaminkah tempat kita di akhirat?
        Dari Uqbah bin Amir ra, dia berkata:
        Aku bertanya, “Wahai Rasulullah bagaimana caranya agar selamat?” Rasulullah bersabda: “Kendalikan lisanmu, hendaknya rumahmu membantumu merasa nyaman (untuk beribadah), dan menangislah karena dosa-dosamu.”
         Riwayat Tirmidzi
        Sungguh Sang Khaliq sentiasa merindui bicara hamba-hamba kepadaNya. Dia sentiasa menanti dan menunggu saat hamba kembali mengharapkan hanya Dia. Sunyinya seorang hamba dengan Sang Pencipta bukan sahaja di dalam sujud sepertiga malam.
        Tapi sunyinya sebuah jiwa yang hanya bersama Sang Pencipta di kala siang sehingga dunia bukan lagi runsingan dan perhatiannya. Secara ringkas terdapat persamaan dikalangan golongan-golongan yang disebut Nabi di atas. Mereka adalah insan-insan yang takut pada Allah swt.
        Kerana itu setiap tindakan, fikiran dan keputusan adalah atas dasar mengusahakan apa yang disuruhNya dan menghindarkan apa yang dilarangNya. Kesemua ini bukan hanya kerana sifat Taqwa dan tanda keTaatan sebagai hamba.
        Sebaliknya juga untuk melibatkan interaksi, intergriti dan menjaga hubungan sesama manusia dan makhlukNya. Mereka menyebarkan kasih sayang ke seluruh alam kerana Allah swt itu penuh dengan Rahman dan Rahim.
        Jadi, di mana kita?

        Balasan Orang yang Dizalimi


        Diriwayatkan dari Ikrimah, Bahwa Rasulullah saw. sersabda; "Ketika hari kiamat datang Allah menutupi antara hamba yang satu dengan lainnya. Kemudian Allah memberikan catatan amal kebaikan hamba tersebut. Si hamba pun membacanya. Kemudian Allah bertanya, `Apa yang kau lihat?’
        Hamba itu menjawab, `saya melihat kebaikan yang sangat banyak’
        Allah bertanya, `adakah kebaikanmu itu dikurangi?’
        `Tidak.’
        Kemudian Allah memberikan catatan kejelekan hamba tersebut. Hamba itu menerimanya lalau membacanya. Allah lalu bertanya, `apa yang kau lihat?’
        `Saya melihat kejelekan yang sangat banyak.’
        `Apakah kau mengetahui kejelekan itu?’
        Sihamba menjawab, `iya’
        `apakah kejelekan - kejelekanmu itu ditambahi?’
        Si hamba menjawab, `tidak’
        Kemudian Allah Ta’ala memberikan sebuah catatan Si hamba pun membacanya. Dan, Allah kembali bertanya kepada hamba itu. `Apa yang kau lihat dalam catatan itu?’
        `Saya melihat kebaikan yang saaaaangat banyak.’
        `Apakah kau mengetahuinya.’
        `Tidak’
        Maka Allah Berfirman kepada hamba itu. Itu adalah pahala yang kau dapatkan sebab kau di dzalimi, disakiti, dan mereka mengambil hartamu tanpa sepengetahuanmu."’

        *****

        Ibrahim bin Adham memiliki tujuhpuluh budak. Ketika bertaubat, seluruh budaknya dimerdekakannya.
        Suatu ketika salah satu bekas budaknya mabuk dan bertemu dengannya. Bekas budak itu berkata. "hai Fulan, (karna budak itu sedang mabuk maka memanggilnya dengan sebutan fulan) tunjukkan aku kerumahku."
        Ibrahim pun menunjukan ke salah satu kuburan. Begitu tahu dibawa kekuburan, bekas budak itu marah lalu memukuli Ibrahim bin Adham dengan keras. Si bekas budak berkata, "kubilang tunjukan aku ke rumahku! Mengapa kau tunjukan aku ke pekuburan?"
        Ibrahim bin Adham menjawab, "wahai orang tak berakal, inilah rumahmu yang sebenarnya. Selain ini, hanyalah tipuan semata."

        Mendengat hal itu, si bekas budak semakin marah dan mencambuki Ibrahim bin Adham. Namun setiap kali dicambuk, Ibrahim mengucap; "Ghafarallaahui laka (semoga Allah Mengampunimu)."
        Ketika itu, tiba-tiba datang ada seorang lelaki dan berkata, "hai, kau! Apa yang telah kau lakukan terhadap tuanmu yang telah memerdekakanmu?"
        Si bekas budak itu nampaknya tidak tahu kalau orang yang ia pukuli dan sakitnya adalah bekas tuannya. Si bekas budak itupun berkata, "memangnya suaoa orang ini?"
        Lelaki itu berkata, "dia Ibrahim bin Adham!"

        Mendengar hal itu, serta-merta si bekas budak bersipuh di hadapan Ibrahim bin Adham seraya minta maaf.
        Ibrahim berkata, "kau telah kuampuni dan kumaafkan."
        Si bekas budak berkata, "Wahai tuanku, saya telah menyakiti dan memukuli tuan, tapi engkau malah mendoakan kebaikan untukku. `ghafarallaahu laka. `Mengapa?"
        Ibrahim bin adham menjawab, "bagaimana aku tidak mendoakan kebaikan untukmu, padahal pukulanmu dan penyiksaanmu terhadapku adalah penyebab aku bisa masuk surga?"

        Dukutip dari kitab Al-Mawa’izb al-Ushfuriyah,
        karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar.
        Syarh Shohih Muslim,

        Jumat, 30 Oktober 2015

        Sifat-sifat utama Nabi Muhammad SAW

        “Tiadalah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi Rahmat bagi sekalian alam.”  (Quran s. al- Anbiya : 107)

        Peribadi Nabi Muhammad s.a.w. sungguh menarik hati seluruh manusia yang mengakui kebenaran, keperibadian Rasulallah jelas diterangkan dalam al-Quran antaranya Allah berfirman yang bermaksud:
        “Maka disebabkan rahmat dari Allah (kepadamu Muhammad s.a.w) , engkau telah bersikap lemah lembut kepada mereka. Kalaulah engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari kamu. Oleh itu ma’afkanlah mereka (mengenai kesalahan yang mereka lakukan terhadap engkau, dan mohonlah keampunan bagi mereka, dan juga bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan (permasaalahan keduniaan) itu. Kemudian setelah engkau berazam (untuk membuat sesuatu) maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertawakkal kepadaNya. (al-Quran s. Ali Imran: 159)
        Ini salah satu sifat terpuji dari peribadi Nabi Muhammad s.a.w. diantara banyak lagi sifat terpuji yang dimiliki oleh Rasulallah s.a.w., sehingga menyebabkan baginda Nabi s.a.w. telah dapat membawa suatu perubahan yang luar biasa terhadap masyarakat ummat manusia, khasnya masyarakat Arab di zaman jahiliah
        Kebiasaannya
        Telah dikeluarkan oleh Ya’kub bin Sufyan Al-Faswi dari Al-Hasan bin Ali ra. katanya: Pernah aku menanyai bapa saudaraku (dari sebelah ibu) Hind bin Abu Halah, dan aku tahu dia memang sangat pandai mensifatkan perilaku Rasulullah SAW, padahal aku ingin sekali untuk disifatkan kepadaku sesuatu dari sifat beliau yang dapat aku mencontohinya, maka dia berkata : Adalah Rasulullah SAW itu kelihatannya seperti orang yang selalu bersedih, senantiasa banyak berfikir, tidak pernah beristirehat panjang, tidak berbicara bila tidak ada keperluan, banyak diamnya, memulakan bicara dan menghabiskannya dengan sepenuh mulutnva, kata-katanya penuh mutiara mauti manikam, satu-satu kalimatnya, tidak berlebih-lebihan atau berkurang-kurangan, lemah lembut tidak terlalu kasar atau menghina diri, senantiasa membesarkan nikmat walaupun kecil, tidak pernah mencela nikmat apa pun atau terlalu memujinya, tiada seorang dapat meredakan marahnya, apabila sesuatu dari kebenaran dihinakan sehingga dia dapat membelanya.
        Dalam riwayat lain, dikatakan bahawa dia tidak menjadi marah kerana sesuatu urusan dunia atau apa-apa yang bertalian dengannya, tetapi apabila dia melihat kebenaran itu dihinakan, tiada seorang yang dapat melebihi marahnya, sehingga dia dapat membela kerananya. Dia tidak pernah marah untuk dirinya, atau membela sesuatu untuk kepentingan dirinya, bila mengisyarat diisyaratkan dengan semua telapak tangannya, dan bila dia merasa takjub dibalikkan telapak tangannya, dan bila berbicara dikumpulkan tangannya dengan menumpukan telapak tangannya yang kanan pada ibu jari tangan kirinya, dan bila dia marah dia terus berpaling dari arah yang menyebabkan ia marah, dan bila dia gembira dipejamkan matanya, kebanyakan ketawanya ialah dengan tersenyum, dan bila dia ketawa, dia ketawa seperti embun yang dingin.
        Berkata Al-Hasan lagi: Semua sifat-sifat ini aku simpan dalam diriku lama juga. Kemudian aku berbicara mengenainya kepada Al-Husain bin Ali, dan aku dapati ianya sudah terlebih dahulu menanyakan bapa saudaraku tentang apa yang aku tanyakan itu. Dan dia juga telah menanyakan ayahku (Ali bin Abu Thalib ra.) tentang cara keluar beliau dan masuk beliau, tentang cara duduknya, malah tentang segala sesuatu mengenai Rasulullah SAW itu.
        Keadaannya di rumah
        Berkata Al-Hasan ra. lagi: Aku juga pernah menanyakan ayahku tentang masuknya Rasulullah SAW lalu dia menjawab: Masuknya ke dalam rumahnya bila sudah diizinkan khusus baginya, dan apabila dia berada di dalam rumahnya dibahagikan masanya tiga bahagian. Satu bahagian khusus untuk Allah ta’ala, satu bahagian untuk isteri-isterinya, dan satu bahagian lagi untuk dirinya sendiri. Kemudian dijadikan bahagian untuk dirinya itu terpenuh dengan urusan di antaranya dengan manusia, dihabiskan waktunya itu untuk melayani semua orang yang awam mahupun yang khusus, tiada seorang pun dibezakan dari yang lain. Di antara tabiatnya ketika melayani ummat, dia selalu memberikan perhatiannya kepada orang-orang yang terutama untuk dididiknya, dilayani mereka menurut kelebihan diri masing-masing dalam agama.
        Ada yang keperluannya satu ada yang dua, dan ada yang lebih dari itu, maka dia akan duduk dengan mereka dan melayani semua urusan mereka yang berkaitan dengan diri mereka sendiri dan kepentingan ummat secara umum, cuba menunjuki mereka apa yang perlu dan memberitahu mereka apa yang patut dilakukan untuk kepentingan semua orang dengan mengingatkan pula: “Hendaklah siapa yang hadir menyampaikan kepada siapa yang tidak hadir. Jangan lupa menyampaikan kepadaku keperluan orang yang tidak dapat menyampaikannya sendiri, sebab sesiapa yang menyampaikan keperluan orang yang tidak dapat menyampaikan keperluannya sendiri kepada seorang penguasa, nescaya Allah SWT akan menetapkan kedua tumitnya di hari kiamat”, tiada disebutkan di situ hanya hal-hal yang seumpama itu saja. Dia tidak menerima dari bicara yang lain kecuali sesuatu untuk maslahat ummatnya. Mereka datang kepadanya sebagai orang-orang yang berziarah, namun mereka tiada meninggalkan tempat melainkan dengan berisi. Dalam riwayat lain mereka tiada berpisah melainkan sesudah mengumpul banyak faedah, dan mereka keluar dari majlisnya sebagai orang yang ahli dalam hal-ehwal agamanya.
        Keadaannya di luar rumah
        Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Kemudian saya bertanya tentang keadaannya di luar, dan apa yang dibuatnya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW ketika di luar, senantiasa mengunci lidahnya, kecuali jika memang ada kepentingan untuk ummatnya. Dia selalu beramah-tamah kepada mereka, dan tidak kasar dalam bicaranya. Dia senantiasa memuliakan ketua setiap suku dan kaum dan meletakkan masing-masing di tempatnya yang layak. Kadang-kadang dia mengingatkan orang ramai, tetapi dia senantiasa menjaga hati mereka agar tidak dinampakkan pada mereka selain mukanya yang manis dan akhlaknya yang mulia.
        Dia selalu menanyakan sahabat-sahabatnya bila mereka tidak datang, dan selalu bertanyakan berita orang ramai dan apa yang ditanggunginya. Mana yang baik dipuji dan dianjurkan, dan mana yang buruk dicela dan dicegahkan. Dia senantiasa bersikap pertengahan dalam segala perkara, tidak banyak membantah, tidak pernah lalai supaya mereka juga tidak suka lalai atau menyeleweng, semua perkaranya baik dan terjaga, tidak pernah meremehkan atau menyeleweng dari kebenaran, orang-orang yang senantiasa mendampinginya ialah orang-orang paling baik kelakuannya, yang dipandang utama di sampingnya, yang paling banyak dapat memberi nasihat, yang paling tinggi kedudukannya, yang paling bersedia untuk berkorban dan membantu dalam apa keadaan sekalipun.
        Majlisnya
        Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya lalu bertanya pula tentang majlis Nabi SAW dan bagaimana caranya ? Jawabnya: Bahawa Rasulullah SAW tidak duduk dalam sesuatu majlis, atau bangun daripadanya, melainkan dia berzikir kepada Allah SWT Dia tidak pernah memilih tempat yang tertentu, dan melarang orang meminta ditempatkan di suatu tempat yang tertentu. Apabila dia sampai kepada sesuatu tempat, di situlah dia duduk sehingga selesai majlis itu dan dia menyuruh membuat seperti itu. Bila berhadapan dengan orang ramai diberikan pandangannya kepada semua orang dengan sama rata, sehingga orang-orang yang berada di majlisnya itu merasa tiada seorang pun yang diberikan penghormatan lebih darinya.
        Bila ada orang yang datang kepadanya kerana sesuatu keperluan, atau sesuatu maslahat, dia terus melayaninya dengan penuh kesabaran hinggalah orang itu bangun dan kembali. Dia tidak pemah menghampakan orang yang meminta daripadanya sesuatu keperluan, jika ada diberikan kepadanya, dan jika tidak ada dijawabnya dengan kata-kata yang tidak mengecewakan hatinya. Budi pekertinya sangat baik, dan perilakunya sungguh bijak. Dia dianggap semua orang seperti ayah, dan mereka dipandang di sisinya semuanya sama dalam hal kebenaran , tidak berat sebelah. Majlisnya semuanya ramah-tamah, segan-silu, sabar menunggu, amanah, tidak pemah terdengar suara yang tinggi, tidak dibuat padanya segala yang dilarangi, tidak disebut yang jijik dan buruk, semua orang sama kecuali dengan kelebihan taqwa, semuanya merendah diri, yang tua dihormati yang muda, dan yang muda dirahmati yang tua, yang perlu selalu diutamakan, yang asing selalu didahulukan.
        Ketika bersama sahabat-sahabatnya
        Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya pun lalu menanyakan tentang kelakuan Rasulullah SAW pada orang-orang yang selalu duduk-duduk bersama-sama dengannya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW selalu periang orangnya, pekertinya mudah dilayan, seialu berlemah-lembut, tidak keras atau bengis, tidak kasar atau suka berteriak-teriak, kata-katanya tidak kotor, tidak banyak bergurau atau beromong kosong segera melupakan apa yang tiada disukainya, tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadanya, tidak suka menjadikan orang berputus asa. Sangat jelas dalam perilakunya tiga perkara yang berikut. Dia tidak suka mencela orang dan memburukkannya. Dia tidak suka mencari-cari keaiban orang dan tidak berbicara mengenai seseorang kecuali yang mendatangkan faedah dan menghasilkan pahala.
        Apabila dia berbicara, semua orang yang berada dalam majlisnya memerhatikannya dengan tekun seolah-olah burung sedang tertengger di atas kepala mereka. Bila dia berhenti berbicara, mereka baru mula berbicara, dan bila dia berbicara pula, semua mereka berdiam seribu bahasa. Mereka tidak pernah bertengkar di hadapannya. Dia tertawa bila dilihatnya mereka tertawa, dan dia merasa takjub bila mereka merasa takjub. Dia selalu bersabar bila didatangi orang badwi yang seringkali bersifat kasar dan suka mendesak ketika meminta sesuatu daripadanya tanpa mahu mengalah atau menunggu, sehingga terkadang para sahabatnya merasa jengkel dan kurang senang, tetapi dia tetap menyabarkan mereka dengan berkata: “Jika kamu dapati seseorang yang perlu datang, hendaklah kamu menolongnya dan jangan mengherdiknya!”. Dia juga tidak mengharapkan pujian daripada siapa yang ditolongnya, dan kalau mereka mahu memujinya pun, dia tidak menggalakkan untuk berbuat begitu. Dia tidak pernah memotong bicara sesiapa pun sehingga orang itu habis berbicara, lalu barulah dia berbicara, atau dia menjauh dari tempat itu.
        Ketika diamnya
        Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Saya pun menanyakan pula tentang diamnya, bagaimana pula keadaannya? Jawabnya: Diam Rasulullah SAW bergantung kepada mempertimbangkan empat hal, iaitu: Kerana adab sopan santun, kerana berhati-hati, kerana mempertimbangkan sesuatu di antara manusia, dan kerana bertafakkur. Adapun sebab pertimbangannya ialah kerana persamaannya dalam pandangan dan pendengaran di antara manusia. Adapun tentang tafakkurnya ialah pada apa yang kekal dan yang binasa. Dan terkumpul pula dalam peribadinya sifat-sifat kesantunan dan kesabaran.
        Tidak ada sesuatu yang boleh menyebabkan dia menjadi marah, ataupun menjadikannya membenci. Dan terkumpul dalam peribadinya sifat berhati-hati dalam empat perkara, iaitu: Suka membuat yang baik-baik dan melaksanakannya untuk kepentingan ummat dalam hal-ehwal mereka yang berkaitan dengan dunia mahupun akhirat, agar dapat dicontohi oleh yang lain. Dia meninggalkan yang buruk, agar dijauhi dan tidak dibuat oleh yang lain. Bersungguh-sungguh mencari jalan yang baik untuk maslahat ummatnya, dan melakukan apa yang dapat mendatangkan manfaat buat ummatnya, baik buat dunia ataupun buat akhirat
        1. Beliau biasanya memaafkan musuh dan para sahabat-sahabatnya yang menyakitinya. Di perang Uhud beliau berdoa untuk kaum kafir yang menyebabkan mulutnya berdarah “Ya Allah maafkan mereka yang tidak tahu”
        2. Beliau sangat penyantun. Beliau biasa memberi minum hewan piaraanya dengan ember dan menunggunya hingga selesai. Beliau membersihkan wajah dan mata kuda tungganganya.
        3. K etika dipanggil, beliau menjawab dengan berkata “labaik” (ya!) Beliau tidak pernah melangkahi orang lain. Beliau biasa duduk di kedua kakinya. Ketika menunggang hewan dan melihat ada orang yang berjalan, beliau mengajak orang itu menumpang di hewan tunggangannya.
        4. Beliau tidak memandang dirinya memiliki kelebihan dibanding lainnya. Ketika sedang berada dalam sebuah perjalanan bersama sahabat-sahabatnya mereka bermaksud memasak seekor kambing. Salah seorang di antara mereka memberikan kambingnya. Ada yang menawarkan diri mengulitinya. Ada yang menawarkan sebagai juru masak. Rasulullah SAW kemudian menawarkan dirinya mencari kayu bakar. Para sahabat berkata “Ya Rasulullah Anda duduk sajalah. Kami yang akan mencari kayunya.” Beliau menjawab “ya! saya tahu Anda semua siap melakukannya. Tetapi saya tidak ingin duduk-duduk saja sementara yang lain bekerja. Allah tidak suka kalau ada yang duduk-duduk saja sedang yang lain bekerja. ” Beliau lalu berdiri dan pergi mencari kayu bakar.
        5. Ketika beliau mengunjungi sahabat-sahabatnya beliau tidak selalu duduk di bagian depan. Beliau mencari tempat yang kosong. Ketika beliau datang, sahabat-sahabatnya cepat-cepat berdiri. Beliau berujar “janganlah kalian berdiri untuk menghormatiku bersikaplah biasa seperti ketika kalian kedatangan orang lain. Saya seperti orang lain. Saya makan seperti yang lainnya. Sayapun duduk kalau lelah.”
        6. Seringkali nabi duduk di kedua lututnya. Beliau juga pernah berdiri menggunakan lututnya ketika memeluk menyambut sahabat-sahabatnya. Beliau tidak pernah membedakan makanan untuknya dan para pembantunya, demikian juga dalam hal berpakaian. Beliau sering membantu pelayannya menyelesaikan pekerjaan. Beliau tidak pernah menyumpahi atau menyakiti orang lain. Anas bin Malik, yang setia melayaninya berkata, “aku menjadi pelayan Rasulullah selama 10 tahun. Beliau membantuku lebih sering dibanding aku membantunya. Beliau tidak pernah memarahiku. Beliau tidak pernah berkata kasar kepadaku.”
        7. Beliau suka menambal sendiri pakaiannya yang sobek, memerah susu kambingnya, dan memberi minum hewan piaraannya. Beliau sering membawa barang-barang belanjaan sendiri ke rumahnya. Dalam perjalanan, beliau sering memberi makan hewan tunggangannya. Kadang-kadang beliau melakukannya sendiri dan kadang-kadang dilakukan oleh pelayannya.
        8. Ketika beliau dipanggil dengan sebutan pelayan oleh seorang pelayan, sebuah kebiasaan di Madinah, beliau lalu berjalan dengan pelayan itu beriringan.
        9. Beliau sering mengunjungi orang yang sakit dan menghadiri pemakamannya. Untuk menggembirakan hati si sakit, beliau mengunjunginya meskipun si sakit kafir atau munafik.
        10. Setelah beliau melaksanakan sholat subuh di Masjid, beliau menghampiri para sahabatnya sambil berkata: “Adakah yang sakit? Bila ada mari kita mengunjunginya.” Kemudian beliau juga berkata:”adakah yang meninggal?Bila ada mari kita membantunya.”Kemudian beliau sering juga berkata:”adakah di antara kalian yang bermimpi sesuatu? Bila ada mari kita tafsirkan mimpinya.” Bila ada yang meninggal beliau membantu menyiapkan pemakamnnya dan menyolatkannya serta menghadiri pemakamannya.
        11. Ketika beliau tidak melihat sahabat-sahabatnya selama tiga hari beliau akan menanyaknnya. Bila sahabatnya itu sedang bepergian beliau mendoakannya, atau bila sahabatnya ada di kotanya beliau akan mengunjunginya.
        12. Beliau selalu mendahului menyambut orang lain yang dijumpainya.
        13. Beliau suka mengendarai unta, keledai, dan kadang-kadang mengajak orang lain menunggang bersamanya.
        14. Beliau suka melayani tamunya dan para sahabatnya dan beliau menyatakan: “orang yang paling dekat dengan masyaraktnya adalah orang yang selalu melayani orang lain.”
        15. Tidak seorang pun pernah menyaksikan beliau tertawa terbahak-bahak. Beliau suka tersenyum kecil. Kadang-kadang gigi depannya tampak ketika beliau tertawa.
        16. Beliau selalu tampak hati-hati dan cermat. Beliau suka berbicara pelan-pelan. Beliau biasa memulai pembicaraan dengan senyum.
        17. Beliau tidak pernah berbicara yang mubazir atau tanpa keperluan. Bila beliau memerlukan sesuatu beliau akan berbicara dengan singkat dan jelas. Terkadang beliau mengulangi pembicaraan sampai tiga kali agar bias dipahami.
        18. Beliau biasa bercanda dengan orang-orang asing, orang yang pernah dikenalnya, anak-anak, wanita tua, dan wanita yang menjadi mahramnya (yang tidak boleh dinikahi). Namun demikian, hal itu tidak membuatnya lupa kepada Allah.
        19. Tak seorang pun sanggup melihatnya berlama-lama karena kemulyaannya. Bila seseorang melihatnya, ia pasti mulai berkeringat. Beliau sering berkata janganlah engkau ..dirimu! saya bukanlah raja. Saya bukanlah penjahat. Saya adalah anak dari seorang wanita dan saya juga makan daging kering.” Sehingga orang lain hilang kekuatirannya dan menjelaskan masalah yang dihadapinya.
        20. Beliau tidak memiliki pengawal atau penjaga. Setiap orang dapat menemuinya dan mengutarakan masalahnya.
        21. Beliau sangat pemalu. Beliau biasa memperhatikan wajah orang yang mengajaknya berbicara.
        22. Beliau tidak pernah mempermalukan orang akibat kesalahannya. Beliau tidak pernah mengeluhkan orang lain. Kalau beliau tidak senang dengan kata-kata atau perbuatan orang lain maka beliau berkata: “heran koq ada orang yang kelakuannya seperti itu.”
        23. Meskipun beliau orang yang memiliki keutamaan, beliau berkata: “Di antara kalian akulah orang yang paling paham tentang Allah dan paling takut kepada-Nya. Bila kalian tahu apa yang aku ketahui maka kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”
        24. Hatinya sangat mulya dan memiliki keberanian. Di perang Hunain, banyak tentara Muslim lari mengumpulkan harta rampasan perang. Akibatnya di sekitar beliau hanya tinggal beberapa orang saja. Selanjutnya pasukan musuh menyerang secara tiba-tiba dan mereka mengelilingi Rasulullah. Namun Rasululllah tidak bias ditaklukan.

        Copyright @ 2013 Cinta Islam.